*note : Ini cuma iseng2 aja bikin cerita. Maaf klo ceritanya nggak bagus atau kurang menarik (krn aku sendiri ngg kpikiran buat bkin cerita kyk gini). Maaf juga karena cerita ini jauh dr sempurna. Sekali lagi, ini hanya hasil dari keisenganku saja~
Sung Yeon berlari menyusuri trotoar. Tinggal beberapa langkah lagi ia sampaii di halte. Bis sudah berhenti di sana. Jika ia tidak menpercepat larinya, ia pastii sudah ketinggalan. Yeon masuk ke dalam bis tepat pada waktunya. Dia memilih tempat duduk di tengah. Yeon masih kesulitan bernafas selama beberapa menit kemudian, mengingat bahwa ia berlari kencang sekali. Membutuhkan waktu sekitar tujuh menit untuk bisa sampai di sekolahnya. Tidak ingin menyia-nyiakan waktu yang ada, Yeon mengeluarkan buku pelajarannya dan membaca kembali apa yang sudah ia pelajari semalam.
Yeon seorang murid yang pandai. Ia bisa mengingat sesuatu dengan cepat dan mudah. Sayangnya, keluarganya termasuk kurang dalam perekonomian. Orang tuanya hanya bekerja sebagai nelayan di sebuah kota kecil di Korea. Ia terpaksa pindah ke Seoul karena ia ingin menjadi orang yang mempunyai masa depan lebih baik. Orang tuanya pun mengharapkan hal itu. Yeon bersekolah di salah satu sekolah terkemuka dengan banyak siswa kaya dan pintar. Ia sendiri bisa bersekolah di sekolah itu karena beasiswa. Masalah teman-temannya yang memiliki banyak uang dan tidak sebanding dengannya, Yeon tidak mempedulikan hal itu.
Bis berhenti di halte berikutnya. Seorang remaja laki-laki masuk. Dengan santai ia duduk di bangku sebelah Yeon yang kosong. Bahkan, kehadiran orang baru yang duduk di sebelahnya, tak membuat Yeon mengalihkan pandangannya dari buku. Laki-laki di sebelah Yeon tampak asyik dengan pemutar musiknya. Sepertinya baru saja dibeli. Lelaki itu bergumam mengikuti alunan lagu. Yeon menghembuskan nafas keras-keras, pertanda ia tidak setuju. Itu sangat mengganggunya. Lelaki itu tak berkutik. Tentu saja, karena ia menggunakan earphone, laki-laki itu tidak mendengar dengusan Yeon. Yeon terpaksa kembali belajar ditemani gumaman orang yang tidak dikenalnya itu.
♫
Sebenarnya lelaki itu mendengar dengusan Yeon. Dalam hati, lelaki itu tertawa. Ia sadar bahwa ia telah mengganggu wanita disebelahnya, jadi ia menghentikan gumamannya. Lelaki itu melirik Yeon. ”Hmm... tidak terlalu cantik, pakaiannya tidak secemerlang pakaian siswa normal yang kaya dan dia kutu buku,” lelaki itu menyimpulkan. ”Tapi ada sesuatu yang berbeda dari orang ini.” Lelaki itu merasa bosan. Ia menyesal memilih tempat duduk di dekat orang ini. Biasanya saat di tempat umum, dekat WC sekalipun jika ia bertemu dengan wanita, wanita itu pasti langsung terpana dan terpikat. Mengikutinya, menjadi fansnya, bahkan mengajaknya berbicara macam-macam. Sangat menyesal, ia memilih duduk dengan wanita yang tidak menarik, padahal di belakang masih banyak wanita yang jauh lebih cantik dibandingkan wanita itu, Yeon.
Lelaki itu ingin pindah tempat duduk ke belakang bersama para wanita cantik yang terus berbicara sambil seskali melirik ke arahnya. ”Sepertinya mereka membicarakanku,” batin lelaki itu yang kemudian memberikan seulas senyum kepada para wanita di belakang. Kelihatannya para wanita itu memiliki tempat tujuan yang sama, dilihat dari seragam mereka. Ketika lelaki itu berniat untuk benar-benar pindah, gedung tinggi tempat tujuan mereka sudah terlihat. Terlambat.
♫
Yeon melirik ke arah jendela. Ini sudah hampir tujuh menit. Seharusnya mereka sudah hampir sampai. Tak lama kemudian, Yeon melihat gedung tinggi tempatnya bersekolah sekarang. Dengan segera, ia menutup bukunya dan memasukannya ke dalam tasnya.
Bis sudah berhenti di halte dekat sekolah. Yeon berdiri. Tak disangka, lelaki itu juga ikut berdiri. Yeon baru sadar, bahwa mereka mengenakan seragam yang sama. Dari cara berpakaiannya, Yeon sudah bisa menebak bahwa dia bukan siswa beasiswa, dia berasal dari keluarga kaya. Tapi, Yeon belum pernah melihatnya di sekolah. Ia berpikir, mungkin saja orang itu adalah kakak kelasnya. Lelaki itu turun dari bis, tapi kemudian dia berhenti di halte. Yeon meliriknya. Ia baru berjalan ketika para wanita di bis yang tak lain adalah teman-teman sekelasnya yang cantik, kaya dan juga pintar turun dari bis. Yeon mempercepat langkahnya agar tidak terlalu lama meihat wajah orang itu.
♫
Bel tanda masuk berbunyi. Yeon duduk di tempat duduk yang sudah dipilihnya. Satu persatu, para siswa mulai masuk ke kelas dan tak lama, guru mereka datang. Wai kelas mereka kali ini tidak datang sendiri. Ia datang bersama seorang remaja lelaki seumuran dengannya. Astaga! Itu kan laki-laki di bis tadi!
Seperti biasa, wali kelas mereka masuk dengan senyum yang mengembang, berusaha membuat anak didiknya bersemangat belajar. Tapi bagaimana pun juga, seorang anak pastilah memiliki hasrat untuk ingin bersenang-senang. Hanya saja, hasrat ingin bersenang-senang yang dimiliki para siswa lebih besar dibandingkan dengan keinginan untuk belajar. Terkecuali Sung Yeon. Sudah bisa ditebak, ia tidak memiliki uang untuk bersenang-senang. Sebenarnya ia juga tidak terlalu suka bersenang-senang, karena rasanya hanya sesaat dan menghamburkan banyak uang.
”Anak-anak, kalian akan memiliki teman baru,” kata wali kelas. ”Perkenalkan dirimu, Joo Won,” kata wali kelas Yeon lagi.
”Perkenalkan, namaku Kim Joo Won. Saya pindahan dari Amerika. Senang berkenalan,” kata lelaki yang bernama Joo Won itu. Dia bahkan tidak membungkukkan badannya saat memperkenalkan dirinya. Benar-benar tidak sopan. Tapi beberapa teman wanita Yeon terpekik tertahan. Yeon hanya tersenyum masam.
”Joo Won, untuk sementara, kamu duduk di sana,” kata wali kelas sambil menunjuk sebuah bangku kosoong di sebelah Yeon. Yeon terkejut. ”Kenapa aku harus bertemu dengan lelaki itu lagi?”
Joo Won memiliki gaya jalan yang menurut Sung yeon sangat aneh. Seperti dibuat-buat. Herannya, teman-temannya malah terpana. Apa sebenarnnya yang menarik dari lelaki ini? Tidak satu pun! Tapi lain untuk teman-teman Yeon. Bagi mereka, Joo Woon, siswa baru itu adalah sosok pria yang sempurna, untuk dijadiakan pasangan.
Joo Won tersenyum kecil melihat raut wajah Yeon yang masam. Joo Won merasa aneh sekarang. Biasanya, setiap wanita yang ditemuinya akan terpana padaya. Tapi bagimana dengan wanita yang berada di sebelahnya? Bahkan sama sekali tidak peduli! Joo Won berniat untuk membuat Yeon tertarik padanya. Joo Won merasa senang juga karena hampir seluruh wanita di kelas itu menyukainya. Waktu yang sangat singkat.
Laki-laki lain di kelas itu merasa marah dan iri. Namun, keramahan Joo Won menepis semuanya. Satu persatu teman ia dapatkan. Bahkan geng terkuat di sekolah itu, tunduk padanya. Hebatnya, tak lebih dari sebulan, seluruh siswa di sekolah itu menyukainya. Joo Won merasa puas atas hasil kerja kerasnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar