Senin, 05 September 2011

Who Are You? [Part 1]



    
        Siang itu, setelah bel sekolah berbunyi, aku berjalan pulang dengan malas. Biasanya, aku dijemput papa atau mama. Tapi, hari ini, segudang tugas menunggu mereka. Membuat mereka tak sempat menjemputku. Aku benci sekali hari ini. Jalanan becek, karena sehabis hujan. Awan kelabu masih menitikan air hujan kecil sebagai gerimis. Hmm,.. kebetulan siang tadi teman-temanku mengajakku untuk makan bersama. Padahal, uang sakuku hari ini harus kugunakan untuk naik transportasi umum untuk pulang. Aku tidak enak menolak mereka, karena mereka mengajak setengah memaksa. Bagiku, orang-orang di sekolah ini, aku merasa aneh dengan mereka. Entah aku yang memang kurang bergaul, atau mereka yang tidak suka bergaul, sulit mendapatkan teman di sini. Aku pun harus berusaha mati-matian untuk mendapatkan teman di sini (tidak seimbang antara kerja kerasku dengan hasil yang kudapatkan). Teman-temanku di sini lebih tergolong cuek dan sombong. Mereka juga egois dan termasuk orang yang emosional. Dalam hati aku malas mendekati mereka. Tapi, disamping otakku yang penuh rumus-rumus matematika, aku juga butuh teman sebagai pendamping agar tidak membuat otakku terasa penat.
            Aku berjalan dengan langkah lambat yang lunglai, tak bertenaga. Rumahku cukup jauh dari sekolah, membutuhkan waktu sekitar delapan menit untuk sampai di rumah jika berjalan kaki. Ahhh,.. sekarang aku harus menerima akibatnya. Sudah sepantasnya aku menerima akibat ini, atas semua yang kulakukan. Menjalaninya dengan setengah hati membuatku merasa bahwa sudah lama sekali aku berjalan. Kebetulan, jalan yang kutempuh, melewati beberapa petak tanah tempat kuburan para orang Belanda. Aku terkejut melihat seseorang sedang menggali tanah. Sepertinya akan ada seorang penghuni baru di kuburan tersebut. Kuburan itu sudah termakan usia tak terurus. Masa, ada saja orang yang peristirahatan terakhirnya berada di tempat yang tak terurus seperti itu. Yang lebih-lebih membuatku terkejut, mataku dengan jelas dapat menangkap wajah itu, itu temanku yang berada di desa! Kota yang kutempati ini bagian selatan, berbatasan dengan desa. Jadi keadaan desa dapat dinikmati tanpa harus pergi jauh. Aku dan papa sering bersepeda ke wilayah pedesaan dekat kota kami itu. Dan sering bertemu anak itu, Yong Shin. Dia yang mmberitahukan kepada jalan-jalan di desa agar kami tidak tersesat. “Apa yang sedang dilakukan anak itu?” batinku dalam hati.
            Aku mendekatinya perlahan dengan berdoa dalam hati semoga aku tidak mengganggu masa istirahat mereka. “Hai Yong Shin! Sedang apa kamu di sini?” 
“Hai,Kyuri! Aku? Aku sedang menggali, seperti yang kau lihat,” kata Yong Shin. 
“Bukan. Maksudku, untuk apa?”tanyaku lagi. 
“Huh,..” dia mengawali pembicaraannya. “Kemarin dua orang asing datang kemari dan menawarkan sebuah pekerjaan dengan imbalan yang besar. Sekali menggali satu lubang ini, kami diberi bayaran yang besar. Tapi, dua orang tersebut hanya membutuhkan satu orang untuk menggali, siapa pun itu. Karena aku yang tercepat mendatangi kedua orang tersebut, dan mengatakan bahwa aku bersedia, mereka memilihku. Aku tidak tahu pekerjaanku apa. Mereka hanya menyebutkan bahwa aku harus menggali sedalam 1,2 meter saja. Dengan panjang 2 meter." ujarnya. 
"aku baru mengetahui pekerjaanku ketika mereka mengantarku ke sini. Mereka tak mengatakan apa pun dan meninggalkanku di sini. Kemarin, mereka berjanji menjemputku jam empat sore di sini. Itu kata mereka. Tapi, entah bagaimana nasibku nanti. Apakah aku akan di jemput, atau aku akan tetap berada di sini. Menurutku ini pekerjaan yang aneh, hanya menggali sedalam 1,5 meter untuk jenasah yang akan mendiami lubang ini, aku pikir tidak cukup kedalamannya. Makanya, aku berencana untuk menambah kedalamannya sedalam kurang lebih setengah meter lagi. Kalau kedua orang majikanku itu marah, aku akan mengembalikan tanah yang sudah aku gali agar kedalamannya menjadi 1,5 meter.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar