Siang
itu, setelah bel sekolah berbunyi, aku berjalan pulang dengan malas. Biasanya,
aku dijemput papa atau mama. Tapi, hari ini, segudang tugas menunggu mereka.
Membuat mereka tak sempat menjemputku. Aku benci sekali hari ini. Jalanan
becek, karena sehabis hujan. Awan kelabu masih menitikan air hujan kecil
sebagai gerimis. Hmm,.. kebetulan siang tadi teman-temanku mengajakku untuk
makan bersama. Padahal, uang sakuku hari ini harus kugunakan untuk naik
transportasi umum untuk pulang. Aku tidak enak menolak mereka, karena mereka
mengajak setengah memaksa. Bagiku, orang-orang di sekolah ini, aku merasa aneh
dengan mereka. Entah aku yang memang kurang bergaul, atau mereka yang tidak
suka bergaul, sulit mendapatkan teman di sini. Aku pun harus berusaha mati-matian
untuk mendapatkan teman di sini (tidak seimbang antara kerja kerasku dengan
hasil yang kudapatkan). Teman-temanku di sini lebih tergolong cuek dan sombong.
Mereka juga egois dan termasuk orang yang emosional. Dalam hati aku malas
mendekati mereka. Tapi, disamping otakku yang penuh rumus-rumus matematika, aku
juga butuh teman sebagai pendamping agar tidak membuat otakku terasa penat.
Aku
berjalan dengan langkah lambat yang lunglai, tak bertenaga. Rumahku cukup jauh
dari sekolah, membutuhkan waktu sekitar delapan menit untuk sampai di rumah
jika berjalan kaki. Ahhh,.. sekarang aku harus menerima akibatnya. Sudah
sepantasnya aku menerima akibat ini, atas semua yang kulakukan. Menjalaninya
dengan setengah hati membuatku merasa bahwa sudah lama sekali aku berjalan.
Kebetulan, jalan yang kutempuh, melewati beberapa petak tanah tempat kuburan
para orang Belanda. Aku terkejut melihat seseorang sedang menggali tanah.
Sepertinya akan ada seorang penghuni baru di kuburan tersebut. Kuburan itu
sudah termakan usia tak terurus. Masa, ada saja orang yang peristirahatan
terakhirnya berada di tempat yang tak terurus seperti itu. Yang lebih-lebih
membuatku terkejut, mataku dengan jelas dapat menangkap wajah itu, itu temanku
yang berada di desa! Kota yang kutempati ini bagian selatan, berbatasan dengan
desa. Jadi keadaan desa dapat dinikmati tanpa harus pergi jauh. Aku dan papa
sering bersepeda ke wilayah pedesaan dekat kota kami itu. Dan sering bertemu
anak itu, Yong Shin. Dia yang mmberitahukan kepada jalan-jalan di desa agar
kami tidak tersesat. “Apa yang sedang dilakukan anak itu?” batinku dalam hati.
Aku
mendekatinya perlahan dengan berdoa dalam hati semoga aku tidak mengganggu masa
istirahat mereka. “Hai Yong Shin! Sedang apa kamu di sini?”
“Hai,Kyuri! Aku? Aku
sedang menggali, seperti yang kau lihat,” kata Yong Shin.
“Bukan. Maksudku, untuk
apa?”tanyaku lagi.
“Huh,..” dia mengawali pembicaraannya. “Kemarin dua orang
asing datang kemari dan menawarkan sebuah pekerjaan dengan imbalan yang
besar. Sekali menggali satu lubang ini, kami diberi bayaran yang besar.
Tapi, dua orang tersebut hanya membutuhkan satu orang untuk menggali, siapa pun
itu. Karena aku yang tercepat mendatangi kedua orang tersebut, dan mengatakan
bahwa aku bersedia, mereka memilihku. Aku tidak tahu pekerjaanku apa. Mereka
hanya menyebutkan bahwa aku harus menggali sedalam 1,2 meter saja. Dengan
panjang 2 meter." ujarnya.
"aku baru mengetahui pekerjaanku ketika mereka mengantarku ke
sini. Mereka tak mengatakan apa pun dan meninggalkanku di sini. Kemarin, mereka
berjanji menjemputku jam empat sore di sini. Itu kata mereka. Tapi, entah
bagaimana nasibku nanti. Apakah aku akan di jemput, atau aku akan tetap berada
di sini. Menurutku ini pekerjaan yang aneh, hanya menggali sedalam 1,5 meter
untuk jenasah yang akan mendiami lubang ini, aku pikir tidak cukup
kedalamannya. Makanya, aku berencana untuk menambah kedalamannya sedalam kurang
lebih setengah meter lagi. Kalau kedua orang majikanku itu marah, aku akan
mengembalikan tanah yang sudah aku gali agar kedalamannya menjadi 1,5 meter.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar