Jumat, 11 November 2011

Raining Love Chapter 1 (Second Series)

First Series => My Stupid Sweet Prince
Casts :
*    Park Hyo Jung
*    Cho Kyuhyun
*    Lee Jong Suk
*    Lee Ga Yeun
*     And the other casts

Awan gelap menyelimuti kota Seoul. Begitu suram. Angin dingin musim gugur menyapu silk-facenya. Gadis dengan rambut panjang terurai itu berjalan dengan langkah pelan, tak bersemangat. Dunia tak pernah terasa sesuram ini, bahkan saat kedua orang tuanya akan berpisah. Tangan gadis itu bergetar. Udara dingin saat itu, seakan menusuk sampai ke dalam jantungnya yang berdebar tanpa sebab. Tak ada senyum manis yang selalu menghiasi wajahnya kini, setelah pria yang mengisi relung hatinya tak dapat bersama disisinya. Cinta Hyun Bin menggerogoti hatinya (lanjutan My Stupid Sweet Prince). Sebenarnya apa makna cinta? Apa guna cinta itu? Apa itu cinta? Gadis itu buta oleh dan karena cinta. Kebutaan perasaan dari hati untuk merasakan cinta. “Di dunia ini tak ada yang memberiku cinta!” Begitu, menurut gadis itu.

Kilasan kejadian 2 bulan lalu membuatnya gemetar. Tangannya yang membawa buku berat, tak sanggup bertahan. Diselingi tetesan air mata, gadis yang akrab disapa Hyo Jung ini (Hyo Jung=Heo Jung) mengambil bukunya. Dengan langkah terseok-seok, gadis itu kembali berjalan. Berjalan menyusuri kota Seoul tanpa arah dan tujuan. Tatapannya yang menerawang tak jelas membuatnya berhenti sesaat, setelahnya, ia melanjutkannya.

Sudah 40 menit Hyo Jung berjalan. Meski tak bertenaga, ia memaksa diri. Berjalan lambat dengan menunduk, membuatnya tak peduli dengan pengguna jalan lain di kota itu. Seorang anak kecil yang sedang berlari menabrak lengannya dan membuatnya goyah. Hyo Jung mengangkat kepalanya. Pandangannya mengarah pada sebuah toko kecil, yang memendam kenangannya bersama Hyun Bin, sekitar 2 bulan yang lalu. Tangannya meraih retsleting tas selempangnya dan mengeluarkan ponsel elegan dengan warna hitam miliknya. Gantungan ponsel dengan huruf “H” yang menginisialkan nama mereka masih menggantung di ponselnya. Gantungan pemberian Hyun Bin itu adalah kenangan terakhir Hyo Jung bersama dengan kekasihnya. Seperti petir, kilatan kenangan melintas cepat dalam benak Hyo Jung, membuat seluruh tubuhnya bergetar. Tangannya menyusup lagi ke dalam tas untuk memasukkan ponsel, setelah itu Hyo Jung merapatkan jaketnya. Ia berjalan perlahan mendekati toko itu, sumber harta kenangannya dengan Hyun Bin. Setiap kali melangkah, ia merasakan seperti sebuah pisau membelah hatinya perlahan yang kemudian mengeluarkan darah hangat yang segar. Namun disamping itu, ia merasakan rasa hangat yang berbeda, seperti kembali ke masa lalu, saat Hyun Bin masih berada di sisinya, berjalan bersamanya, tertawa bersamanya, menghabiskan waktu bersamanya…

Hyo Jung menekan semua rasa yang memenuhi hatinya saat ini. Dengan penuh keyakinan, ia mulai berjalan menuju toko itu. Bunyi gemerincing terdengar bersamaan dengan pintu yang terbuka. Toko itu masih sama, kecuali kasir, pelayan yang berdiri dekat kasir sudah berbeda. Hyo Jung bertanya-tanya dalam hati  di manakah si pelayan itu. Namun perhatiannya teralihkan oleh tempat dimana gantungan ponsel, gantungan kunci dijual. Hyo Jung mendekat ke rak tersebut. Dengan seksama, Hyo Jung memperhatikan deretan gantungan kunci yang tergantung. Satu. Masih ada gantungan seperti miliknya dan Hyun Bin, tapi hanya ada satu. Hanya bisa untuk per-individu. Tidak bisa untuk sepasang kekasih. Ketika sedang mengelilingi toko, Hyo Jung melihat cincin pasangan. Desain yang simple dan elegan membuatnya ingin memilikinya. Tapi tak akan sempurna tanpa kehadiran ‘mantan’ kekasihnya yang direnggut secara paksa dari padanya.

Dengan segera, udara dingin menusuk kulitnya kembali setelah Hyo Jung menutup pintu toko itu. Diiringi senyum kecil, Hyo Jung kembali melangkah. Semenit kemudian Hyo Jung merasa tetesan air membasahi ubun-ubunnya. Gerimis, yang kemudian menjadi hujan lebat. Dengan sekuat tenaga, Hyo Jung berlari ke arah halte yang berjarak sekitar 50 meter dari tempatnya berdiri sekarang. Bajunya cukup untuk dibilang basah kuyup. Dalam hati menggerutu karena lupa membawa payung. Karena kedinginan, Hyo Jung bersin. “Wah, gadis buruk. Ckckck…” seorang laki-laki disebelahnya mencemooh.

“Memangnya apa urusannya denganmu? Siapa kau aku juga tidak tahu. Nggak usah ikut campur!” Hyo Jung menatap tajam laki-laki di sebelahnya. Laki-laki itu cukup tinggi. Ujung kepala Hyo Jung hanya mencapai bahunya. Syal tebalnya yang menutupi bagian bawah wajahnya membuat Hyo tidak dapat melihat wajahnya secara keseluruhan. 
Lee Jong Suk, teman sekelasnya, yang sedang berjalan melewati tempat itu melihat Hyo Jung. “Aigoo, kau hujan-hujanan lagi? Ayo cepat, akan kuantar kau pulang,” ujar Jong Suk.

Sebelum Hyo Jung melangkahkan kakinya, laki-laki disebelahnya tadi bersin dengan keras. “Kau sangat parah,” kata Hyo Jung sambil memandang laki-laki itu dengan pandangan mengejek. Sebelum laki-laki itu membalas kalimat Hyo Jung, Hyo Jung sudah bergegas pergi dengan Jong Suk. “Awas kau,…” ujar lelaki itu pelan.

**********

“Dasar anak nakal,” kata Jong Suk sambil mengacak pelan rambut Hyo Jung.
“Jangan diacak-acak! Nanti rambutku kusut!” Hyo Jung ‘mutung’. Hyo Jung merebut payung Jong Suk dari tangan temannya itu dan segera berjalan cepat, sehingga Jong Suk kehujanan.

“Yaaa!!! Itu payungku!!” teriak Jong Suk sambil mengejar Hyo Jung. Hyo Jung berjalan semakin cepat yang kemudian menjadi berlari. Dengan cepat, Jong Suk mengejarnya. Ketika merasa sudah cukup dekat, Jong Suk menggelitik Hyo Jung. Dengan tangan lainnya yang ‘nganggur’, Hyo Jung memeluk pinggangnya karena geli, tapi terus berlari. Mereka terus berkejar-kejaran sampai payung itu estafet, berada di tangan Jong Suk.

“Sifat nakalmu ternyata tidak berkurang sedikit pun. Bahkan setelah berkabung…” Jong Suk tidak sengaja melontarkan kalimat itu, membuat Hyo Jung berhenti berjalan, dan kehujanan. Jong Suk menoleh ke belakang setelah berjalan beberapa langkah, menyadari bahwa Hyo Jung sudah tidak ada. Heo Jung berdiri di bawah guyuran air hujan, ia menunduk. Jong Suk mendekati Hye Jung, “Maafkan aku…” Sambil merangkul Hyo Jung, Jong Suk mengajak Hyo Jung untuk kembali berjalan. Dengan penuh rasa bersalah, Jong Suk menjaga ucapan dan tingkahnya di depan Hyo Jung.

**********

Seperti hari-hari yang lalu, rumah Hyo Jung kosong. Ayah Ibunya sudah berpisah tanpa mempedulikan dirinya dan kakaknya, Kwon Ji Young. Hyo Jung dan Ji Young, kakaknya, memang lahir dari ibu yang berbeda. Tapi mereka sudah menganggap satu sama lain sebagai saudara kandung. Dikarenakan jadwal BIG BANG, boyband kakaknya, yang terlampau padat, Ji Young atau yang lebih dikenal masyarakat luas sebagai G-Dragon tinggal di asrama dan tidak leluasa untuk mendapatkan akses keluar asrama untuk menjenguk adiknya. Ji Young hanya menjenguk adiknya paling tidak sebulan sekali.

Jong Suk menghabiskan waktu sampai selesai makan malam untuk menemani Hyo Jung. “Kau gadis yang kuat dan cerdas,” ujar Jong Suk saat makan malam.
“Terima kasih. Tapi, itulah caraku untuk bertahan hidup. Meski sering kali berpikir untuk menyusul Oppa…

“Jangan begitu. Banyak hal yang belum kau rasakan selama di dunia, jangan mengambil keputusan terburu-buru. Pikirkanlah baik-baik…” kata Jong Suk, tersenyum. Dalam hati, Jong Suk berkata, “Aku tidak akan membiarkanmu mati. Aku akan membuatmu menjadi milikku. Ketika saat itu tiba, aku akan selalu menjagamu. Aku tidak akan membiarkanmu pergi begitu cepat…”



*********

Sudah 15 menit semenjak kepergian Jong Suk. Hyo Jung hanya mengerjakan tugasnya tanpa mengucapkan satu patah kata pun. Hyo Jung juga hanya serius pada buku dihadapannya. Laptop Apple, televisi, IPad, Ponsel, Headset, dan benda-benda lain miliknya jarang ia gunakan. Gadis itu hanya sering menggunakan bukunya. Bahkan mobilnya pun sudah jarang sekali digunakan. Dengan Hyo Jung yang tak bersemangat dalam hidup, rumah itu seakan kena imbasnya. Rumah besar di Seoul Nohwon itu seakan tak bernyawa, tidak seperti dulu, saat-saat menyenangkan ketika Hyo Jung masih duduk di bangku sekolah dasar.

(Flashback)

Di taman belakang, Hyo Jung berkejar-kejaran dengan kakaknya, Ji Young yang telah merebut boneka beruangnya. Mereka bermain lama sekali. Ayah mereka hanya tertawa sambil membaca koran, sedangkan ibu sedang memanggang daging dan beberapa marshmellow.

“Hyo Jung-ah, kemarilah. Kau bisa sakit kalau kelelahan!” panggil Hyo Jung’s omma.

“Anio, Omma! Aku tidak akan sakit!” teriak Hyo Jung, tertawa sambil terus berlari mengejar kakaknya meski nafasnya memburu.

“Ji Young-ah, kembalikan boneka adikmu. Kasihan dia, sudah kelelahan… Hyo Jung-ah, sudahlah, cepat berhenti. Dagingnya hampir matang,” ujar Omma mereka.

“Sebentar, omma!” jawab mereka serempak.

Ayah mereka hanya tertawa sambil menggelngkan kepala melihat kelakuan nakal anaknya.

“Ji Young-ah, kemarilah,” ujar Ayah.

“Ne, Appa. Ada apa?”

“Berhentilah bermain, Appa akan mengajakmu pergi. Bagaimana? Kau mau?” tanya Ayah.

“Appa, aku bagaimana?” Hyo Jung bertanya sambil berlari kemudian duduk di pangkuan Ayahnya.

“Iya.. iya, anak Appa yang manis ini juga akan ikut.”

“Bagaimana dengan omma?” Tanya Ji Young.

“Jangan tinggal Omma, Appa…” rayu Hyo Jung.

“Tentu saja Omma ikut. Jika tidak, Appa akan kerepotan mengurus kalian. Jadi, jangan lari-lari lagi, arasseo (mengerti) ?”

Arasseoyo, Appa…” jawab mereka lemas. Ayah mereka hanya tertawa melihatnya.

Kenangan itu kini hanya sebuah sampah, cerita fiksi bagi Hyo Jung, karena Hyo Jung sudah tidak percaya bahwa hal-hal sebahagia dan semanis itu pernah terjadi dalam hidupnya. It’s look impossible…

Ditemani segelas coklat hangat, Hyo Jung melahap buku baru yang dibelinya kemarin.

**********

Hari libur. Tidak banyak yang bisa dikerjakannya. Mungkin sebagian besar waktunya akan ia habiskan untuk membaca buku. Saat sedang membaca buku, perutnya berbunyi tanda keroncongan. “Hmmpphh,” Hyo Jung mendengus kesal. Karena di rumah tidak ada makanan apa pun, kecuali susu 2 hari yang lalu, yang pasti sudah basi, Hyo Jung harus pergi ke market.

Di supermarket, Hyo Jung membeli banyak mi instan dan beberapa cemilan lain. Saat sedang melihat ‘counter’ daging, Hyo Jung tanpa sengaja menabrak seseorang.
“Maafkan saya,” kata Hyo Jung dan orang yang ditabraknya tadi bersamaan. Mereka sama-sama membungkukkan badan.

“Tidak apa-apa. Maaf, itu salahku juga,” ujar Hyo Jung.

“Sekali lagi, saya mohon maaf,” kata orang itu. Tiba-tiba, orang lain dibalik orang itu memegang pundaknya, “Kita sudah terlambat,” kata orang asing yang lain itu. Setelah mengucapkan salam perpisahan, mereka berpisah.

“Aku merasa mengenal orang itu. Tapi siapa, di mana, kapan kami saling mengenal?” Tanya Hyo Jung dalam hati. Tapi setelahnya ia tak menghiraukan pertanyaannya tadi.

**********

“I wanna it – I wanna it, oh~  jeongmal jeongmal kimchi. Oh yeah, baby… I just can eat noodle noodle when I felt so hungry. Oh God, baby… Somebedy help me oh just please help me for right now. I’m aloner, please become m-y closer mind~” Hyo Jung menyanyi pelan lagu itu selama di supermarket, menunggu antrian.

Terdengar suara tawa meledak dari sebelah Hyo Jung. “Kau lucu sekali,…” ujar lelaki itu.

“Siapa kau? Ahh.. ya, kau pemuda yang menabrakku tadi kan?” Hyo Jung mengembangkan senyumnya.

“Hmm, kira-kira, begitulah…” pemuda itu tersenyum.


“Mereka, kakak-kakakmu?” Tanya Hyo Jung sambil menunjuk orang yang sedang membayar dikasir, yang tadi memegang pundak pemuda ini.

“Bisa dibilang begitu, tapi bukan kandung,” kata pemuda itu.

“Maknae~!” panggil salah seorang dari mereka.

“Aku akan dimarahi jika terlambat. Maaf aku harus pergi sekarang, senang dapat mengenal seseorang seperti anda,” ujar pemuda itu, membungkuk, lalu pergi.

“Saya juga merasa senang dapat mengenal seseorang seperti anda,” ujar Hyo Jung.

Hyo Jung berpikir panjang selama perjalanan. “Hmm, apakah aku lucu? Aku hanya bernyanyi. Apakah suaraku jelek? Hmm, dia pemuda yang menyenangkan, meski agak aneh,” Hyo Jung mengangkat menepuk-nepuk pipinya, mengangkat kaca matanya dan mengucek matanya.

**********

“I wanna it – I wanna it, oh~  jeongmal jeongmal kimchi. Oh yeah, baby… I just can eat noodle noodle when I felt so so so hungry. Oh God, baby… Somebody help me oh just please help me for right now. I’m aloner, please become m-y closer mind~” Hyo Jung menyanyikan lagunya lagi. Kemudian ia tersenyum.

Ponselnya berbunyi. Lee Ga Yeun, sahabatnya menelepon.

“Yeoboseyo~” Hyo Jung membuka pembicaraan.

“Hyo Jung-ah,…” nada bicara Ga Yeun terdengar khawatir.

“Ada apa Yeun-ah?”

“Orang tuaku pergi ke daerah asal nenek untuk bekerja sebagai nelayan di sana. Aku tidak boleh ikut, mereka mengharuskanku belajar di sini. Tapi adikku yang tinggal bersamaku kecelakaan…” Ga Yeun terisak.

“Astaga,… calm down, baby. Hmm, di mana kamu sekarang?”

“Aku bawa dia ke Seoul National University Hospital…”

“Aku akan ke sana,” kata Hyo Jung. “Tunggu aku.”

Ini pertama kalinya setelah sekian lama Hyo Jung tidak mengendarai mobil pribadinya. Selama 3 bulan, mungkin? Tidak. Sepertinya lebih dari 3 bulan. Hyo Jung sangat rindu pada benda yang hampir selalu disentuhnya dulu.

Mobil meluncur cepat di bawah remang-remang lampu jalan kota Seoul. Menerobos puluhan mobil dengan cepat, menuju Seoul National University Hospital.

**********

“Dia mengalami patah tulang dan butuh perawatan khusus untuk beberapa hari. Biarkan dia beristirahat dulu,” kata sang dokter, setelah keluar dari ruangan Dong Chan, adik Ga Yeun.

“Terima kasih,” ucap Ga Yeun.

Setelah sang dokter pergi, Ga Yeun menumpahkan semua perasaan dan bebannya. “Orang tuaku.. o.. orang tuaku bekerja sebagai nelayan di daerah tempat nenek tinggal. Aku yakin, akan sulit membayar biaya perawatan Dong Chan. Hyo Jung, apa yang harus kulakukan?” Tanya Ga Yeun sambil terus menangis.

“Gwaenchanhna, tenanglah, aku akan membantumu,” kata Hyo Jung sambil menepuk punggung Ga Yeun lembut.

“Maaf, aku sudah banyak merepotkanmu.” Ga Yeun memeluk sahabatnya.

“Hyo Jung tersenyum, “Itulah gunanya sahabat.”

**********

Keesokan paginya, Hyo Jung dan Ga Yeun berangkat ke kampus bersama. Tapi mereka harus berpisah dikarenakan mereka mengambil jurusan yang berbeda.

“Yaa, gadis nakal!” Terdengar suara Jong Suk dari belakang. Hyo Jung menoleh. Jong Suk sedang berlari menghampirinya. Hyo Jung menyambutnya dengan senyuman manis yang membuat pria itu merasa amat sangat bahagia. Kembalinya senyuman Hyo Jung sudah langka akhir-akhir ini dan kemunculan senyumnya yang tak terduga merupakan sebuah kejutan istimewa untuknya, Jong Suk.

“Kau sudah mengerjakan tugasnya?” Tanya Jong Suk.

“Belum semua, tapi hampir selesai,” kata Hyo Jung.

“Wow, kilat…” ujar Jong Suk. Hyo Jung tertawa kecil.

Mereka mengambil jurusan yang sama, sehingga hampir setiap waktu mereka selalu bersama di kampus. Saat Hyo Jung memperhatikan dosen mengajar, Jong Suk diam-diam memperhatikan orang yang mengisi hatinya itu. Wajah Hyo Jung terlihat manis dari setiap sudut yang diambil oleh Jong Suk.

Bunyi “kriiinnng….” Menandakan saat istirahat. Hyo Jung memutuskan untuk membaca sejumlah buku di taman kampus. Hyo Jung memilih tempat duduk rindang di bawah buku. Ia tidak peduli bahwa di tempat duduk itu ada orang lain yang sedang melakukan aktivitas yang sama. Hyo Jung dengan cueknya duduk disebelah orang itu tanpa ijin, permisi atau apa pun. Orang itu melirik kea rah Hyo Jung selama beberapa detik, kemudian melanjutkan kegiatannya.

Seorang mahasiswa yang merokok berjalan dekat tempat Hyo Jung duduk dan menghembuskan asap rokoknya seenaknya. Ketika hidung Hyo Jung menyentuh asap rokok itu, ia bersin. Orang disebelahnya, yang merupakan seorang pemuda memandangi Hyo Jung kemudian berpaling. “Jadi kau orang menjijikkan yang waktu itu,” ujarnya santai.

“Apa katamu? Memangnya siapa kau?! Aku tidak memiliki urusan denganmu!” Hyo Jung mulai naik darah, tanpa melihat wajah pemuda di sampingnya.

Tak lama kemudian, pemuda itu juga bersin, cukup keras. Tapi tidak sekeras saat di halte waktu itu. “Nah, kau juga!” Hyo Jung merasa senang.

“Itu karena kau menolak virus dan bersinmu itu membawa virusnya kepadaku. Akhirnya aku bersin, dan itu juga karenamu!” ujar pemuda itu keras. Kemudian mereka bertatapan.

“Kau!” kata mereka serempak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar