First Series => My
Stupid Sweet Prince
Casts :
Awan gelap menyelimuti kota Seoul.
Begitu suram. Angin dingin musim gugur menyapu silk-facenya. Gadis dengan rambut panjang terurai itu berjalan
dengan langkah pelan, tak bersemangat. Dunia tak pernah terasa sesuram ini,
bahkan saat kedua orang tuanya akan berpisah. Tangan gadis itu bergetar. Udara
dingin saat itu, seakan menusuk sampai ke dalam jantungnya yang berdebar tanpa
sebab. Tak ada senyum manis yang selalu menghiasi wajahnya kini, setelah pria
yang mengisi relung hatinya tak dapat bersama disisinya. Cinta Hyun Bin
menggerogoti hatinya (lanjutan My Stupid Sweet Prince). Sebenarnya apa makna
cinta? Apa guna cinta itu? Apa itu cinta? Gadis itu buta oleh dan karena cinta.
Kebutaan perasaan dari hati untuk merasakan cinta. “Di dunia ini tak ada yang
memberiku cinta!” Begitu, menurut gadis itu.
Kilasan kejadian 2 bulan lalu
membuatnya gemetar. Tangannya yang membawa buku berat, tak sanggup bertahan.
Diselingi tetesan air mata, gadis yang akrab disapa Hyo Jung ini (Hyo Jung=Heo
Jung) mengambil bukunya. Dengan langkah terseok-seok, gadis itu kembali berjalan.
Berjalan menyusuri kota Seoul tanpa arah dan tujuan. Tatapannya yang menerawang
tak jelas membuatnya berhenti sesaat, setelahnya, ia melanjutkannya.
Sudah 40 menit Hyo Jung berjalan.
Meski tak bertenaga, ia memaksa diri. Berjalan lambat dengan menunduk,
membuatnya tak peduli dengan pengguna jalan lain di kota itu. Seorang anak
kecil yang sedang berlari menabrak lengannya dan membuatnya goyah. Hyo Jung
mengangkat kepalanya. Pandangannya mengarah pada sebuah toko kecil, yang
memendam kenangannya bersama Hyun Bin, sekitar 2 bulan yang lalu. Tangannya
meraih retsleting tas selempangnya dan mengeluarkan ponsel elegan dengan warna
hitam miliknya. Gantungan ponsel dengan huruf “H” yang menginisialkan nama
mereka masih menggantung di ponselnya. Gantungan pemberian Hyun Bin itu adalah
kenangan terakhir Hyo Jung bersama dengan kekasihnya. Seperti petir, kilatan
kenangan melintas cepat dalam benak Hyo Jung, membuat seluruh tubuhnya
bergetar. Tangannya menyusup lagi ke dalam tas untuk memasukkan ponsel, setelah
itu Hyo Jung merapatkan jaketnya. Ia berjalan perlahan mendekati toko itu,
sumber harta kenangannya dengan Hyun Bin. Setiap kali melangkah, ia merasakan
seperti sebuah pisau membelah hatinya perlahan yang kemudian mengeluarkan darah
hangat yang segar. Namun disamping itu, ia merasakan rasa hangat yang berbeda,
seperti kembali ke masa lalu, saat Hyun Bin masih berada di sisinya, berjalan
bersamanya, tertawa bersamanya, menghabiskan waktu bersamanya…
Hyo Jung menekan semua rasa yang
memenuhi hatinya saat ini. Dengan penuh keyakinan, ia mulai berjalan menuju
toko itu. Bunyi gemerincing terdengar bersamaan dengan pintu yang terbuka. Toko
itu masih sama, kecuali kasir, pelayan yang berdiri dekat kasir sudah berbeda.
Hyo Jung bertanya-tanya dalam hati di
manakah si pelayan itu. Namun perhatiannya teralihkan oleh tempat dimana
gantungan ponsel, gantungan kunci dijual. Hyo Jung mendekat ke rak tersebut.
Dengan seksama, Hyo Jung memperhatikan deretan gantungan kunci yang tergantung.
Satu. Masih ada gantungan seperti miliknya dan Hyun Bin, tapi hanya ada satu.
Hanya bisa untuk per-individu. Tidak bisa untuk sepasang kekasih. Ketika sedang
mengelilingi toko, Hyo Jung melihat cincin pasangan. Desain yang simple dan
elegan membuatnya ingin memilikinya. Tapi tak akan sempurna tanpa kehadiran
‘mantan’ kekasihnya yang direnggut secara paksa dari padanya.
Dengan segera, udara dingin menusuk
kulitnya kembali setelah Hyo Jung menutup pintu toko itu. Diiringi senyum
kecil, Hyo Jung kembali melangkah. Semenit kemudian Hyo Jung merasa tetesan air
membasahi ubun-ubunnya. Gerimis, yang kemudian menjadi hujan lebat. Dengan
sekuat tenaga, Hyo Jung berlari ke arah halte yang berjarak sekitar 50 meter
dari tempatnya berdiri sekarang. Bajunya cukup untuk dibilang basah kuyup.
Dalam hati menggerutu karena lupa membawa payung. Karena kedinginan, Hyo Jung
bersin. “Wah, gadis buruk. Ckckck…” seorang laki-laki disebelahnya mencemooh.
“Memangnya apa urusannya denganmu?
Siapa kau aku juga tidak tahu. Nggak usah ikut campur!” Hyo Jung menatap tajam
laki-laki di sebelahnya. Laki-laki itu cukup tinggi. Ujung kepala Hyo Jung
hanya mencapai bahunya. Syal tebalnya yang menutupi bagian bawah wajahnya
membuat Hyo tidak dapat melihat wajahnya secara keseluruhan.
Lee Jong Suk, teman sekelasnya, yang
sedang berjalan melewati tempat itu melihat Hyo Jung. “Aigoo, kau hujan-hujanan
lagi? Ayo cepat, akan kuantar kau pulang,” ujar Jong Suk.
Sebelum Hyo Jung melangkahkan
kakinya, laki-laki disebelahnya tadi bersin dengan keras. “Kau sangat parah,”
kata Hyo Jung sambil memandang laki-laki itu dengan pandangan mengejek. Sebelum
laki-laki itu membalas kalimat Hyo Jung, Hyo Jung sudah bergegas pergi dengan
Jong Suk. “Awas kau,…” ujar lelaki itu pelan.
**********
“Dasar anak nakal,” kata Jong Suk
sambil mengacak pelan rambut Hyo Jung.
“Jangan diacak-acak! Nanti rambutku
kusut!” Hyo Jung ‘mutung’. Hyo Jung merebut payung Jong Suk dari tangan
temannya itu dan segera berjalan cepat, sehingga Jong Suk kehujanan.
“Yaaa!!! Itu payungku!!” teriak Jong
Suk sambil mengejar Hyo Jung. Hyo Jung berjalan semakin cepat yang kemudian
menjadi berlari. Dengan cepat, Jong Suk mengejarnya. Ketika merasa sudah cukup
dekat, Jong Suk menggelitik Hyo Jung. Dengan tangan lainnya yang ‘nganggur’,
Hyo Jung memeluk pinggangnya karena geli, tapi terus berlari. Mereka terus
berkejar-kejaran sampai payung itu estafet, berada di tangan Jong Suk.
“Sifat nakalmu ternyata tidak
berkurang sedikit pun. Bahkan setelah berkabung…” Jong Suk tidak sengaja
melontarkan kalimat itu, membuat Hyo Jung berhenti berjalan, dan kehujanan.
Jong Suk menoleh ke belakang setelah berjalan beberapa langkah, menyadari bahwa
Hyo Jung sudah tidak ada. Heo Jung berdiri di bawah guyuran air hujan, ia
menunduk. Jong Suk mendekati Hye Jung, “Maafkan aku…” Sambil merangkul Hyo Jung,
Jong Suk mengajak Hyo Jung untuk kembali berjalan. Dengan penuh rasa bersalah,
Jong Suk menjaga ucapan dan tingkahnya di depan Hyo Jung.
**********
Seperti hari-hari yang lalu, rumah
Hyo Jung kosong. Ayah Ibunya sudah berpisah tanpa mempedulikan dirinya dan
kakaknya, Kwon Ji Young. Hyo Jung dan Ji Young, kakaknya, memang lahir dari ibu
yang berbeda. Tapi mereka sudah menganggap satu sama lain sebagai saudara
kandung. Dikarenakan jadwal BIG BANG, boyband kakaknya, yang terlampau padat,
Ji Young atau yang lebih dikenal masyarakat luas sebagai G-Dragon tinggal di
asrama dan tidak leluasa untuk mendapatkan akses keluar asrama untuk menjenguk
adiknya. Ji Young hanya menjenguk adiknya paling tidak sebulan sekali.
Jong Suk menghabiskan waktu sampai
selesai makan malam untuk menemani Hyo Jung. “Kau gadis yang kuat dan cerdas,”
ujar Jong Suk saat makan malam.
“Terima kasih. Tapi, itulah caraku
untuk bertahan hidup. Meski sering kali berpikir untuk menyusul Oppa…”
“Jangan begitu. Banyak hal yang belum
kau rasakan selama di dunia, jangan mengambil keputusan terburu-buru.
Pikirkanlah baik-baik…” kata Jong Suk, tersenyum. Dalam hati, Jong Suk berkata,
“Aku tidak akan membiarkanmu mati. Aku
akan membuatmu menjadi milikku. Ketika saat itu tiba, aku akan selalu menjagamu.
Aku tidak akan membiarkanmu pergi begitu cepat…”

*********
Sudah 15 menit semenjak kepergian
Jong Suk. Hyo Jung hanya mengerjakan tugasnya tanpa mengucapkan satu patah kata
pun. Hyo Jung juga hanya serius pada buku dihadapannya. Laptop Apple, televisi,
IPad, Ponsel, Headset, dan benda-benda lain miliknya jarang ia gunakan. Gadis
itu hanya sering menggunakan bukunya. Bahkan mobilnya pun sudah jarang sekali
digunakan. Dengan Hyo Jung yang tak bersemangat dalam hidup, rumah itu seakan
kena imbasnya. Rumah besar di Seoul Nohwon itu seakan tak bernyawa, tidak
seperti dulu, saat-saat menyenangkan ketika Hyo Jung masih duduk di bangku
sekolah dasar.
(Flashback)
Di taman belakang, Hyo Jung
berkejar-kejaran dengan kakaknya, Ji Young yang telah merebut boneka beruangnya.
Mereka bermain lama sekali. Ayah mereka hanya tertawa sambil membaca koran,
sedangkan ibu sedang memanggang daging dan beberapa marshmellow.
“Hyo Jung-ah, kemarilah. Kau bisa
sakit kalau kelelahan!” panggil Hyo Jung’s omma.
“Anio, Omma! Aku tidak akan sakit!”
teriak Hyo Jung, tertawa sambil terus berlari mengejar kakaknya meski nafasnya
memburu.
“Ji Young-ah, kembalikan boneka
adikmu. Kasihan dia, sudah kelelahan… Hyo Jung-ah, sudahlah, cepat berhenti.
Dagingnya hampir matang,” ujar Omma mereka.
“Sebentar, omma!” jawab mereka
serempak.
Ayah mereka hanya tertawa sambil
menggelngkan kepala melihat kelakuan nakal anaknya.
“Ji Young-ah, kemarilah,” ujar Ayah.
“Ne, Appa. Ada apa?”
“Berhentilah bermain, Appa akan
mengajakmu pergi. Bagaimana? Kau mau?” tanya Ayah.
“Appa, aku bagaimana?” Hyo Jung
bertanya sambil berlari kemudian duduk di pangkuan Ayahnya.
“Iya.. iya, anak Appa yang manis ini
juga akan ikut.”
“Bagaimana dengan omma?” Tanya Ji
Young.
“Jangan tinggal Omma, Appa…” rayu Hyo
Jung.
“Tentu saja Omma ikut. Jika tidak,
Appa akan kerepotan mengurus kalian. Jadi, jangan lari-lari lagi, arasseo
(mengerti) ?”
Arasseoyo, Appa…” jawab mereka lemas.
Ayah mereka hanya tertawa melihatnya.
Kenangan itu kini hanya sebuah
sampah, cerita fiksi bagi Hyo Jung, karena Hyo Jung sudah tidak percaya bahwa
hal-hal sebahagia dan semanis itu pernah terjadi dalam hidupnya. It’s look
impossible…
Ditemani segelas coklat hangat, Hyo
Jung melahap buku baru yang dibelinya kemarin.
**********
Hari libur. Tidak banyak yang bisa
dikerjakannya. Mungkin sebagian besar waktunya akan ia habiskan untuk membaca
buku. Saat sedang membaca buku, perutnya berbunyi tanda keroncongan. “Hmmpphh,”
Hyo Jung mendengus kesal. Karena di rumah tidak ada makanan apa pun, kecuali
susu 2 hari yang lalu, yang pasti sudah basi, Hyo Jung harus pergi ke market.
Di supermarket, Hyo Jung membeli
banyak mi instan dan beberapa cemilan lain. Saat sedang melihat ‘counter’
daging, Hyo Jung tanpa sengaja menabrak seseorang.
“Maafkan saya,” kata Hyo Jung dan
orang yang ditabraknya tadi bersamaan. Mereka sama-sama membungkukkan badan.
“Tidak apa-apa. Maaf, itu salahku
juga,” ujar Hyo Jung.
“Sekali lagi, saya mohon maaf,” kata
orang itu. Tiba-tiba, orang lain dibalik orang itu memegang pundaknya, “Kita
sudah terlambat,” kata orang asing yang lain itu. Setelah mengucapkan salam
perpisahan, mereka berpisah.
“Aku merasa mengenal orang itu. Tapi
siapa, di mana, kapan kami saling mengenal?” Tanya Hyo Jung dalam hati. Tapi
setelahnya ia tak menghiraukan pertanyaannya tadi.
**********
“I wanna it – I wanna it, oh~ jeongmal jeongmal kimchi. Oh yeah, baby… I
just can eat noodle noodle when I felt so hungry. Oh God, baby… Somebedy help
me oh just please help me for right now. I’m aloner, please become m-y closer
mind~” Hyo Jung menyanyi pelan lagu itu selama di supermarket, menunggu
antrian.
Terdengar suara tawa meledak dari sebelah Hyo Jung. “Kau lucu
sekali,…” ujar lelaki itu.
“Siapa kau? Ahh.. ya, kau pemuda yang menabrakku tadi kan?”
Hyo Jung mengembangkan senyumnya.
“Hmm, kira-kira, begitulah…” pemuda itu tersenyum.

“Mereka, kakak-kakakmu?” Tanya Hyo Jung sambil menunjuk orang
yang sedang membayar dikasir, yang tadi memegang pundak pemuda ini.
“Bisa dibilang begitu, tapi bukan kandung,” kata pemuda itu.
“Maknae~!” panggil salah seorang dari mereka.
“Aku akan dimarahi jika terlambat. Maaf aku harus pergi
sekarang, senang dapat mengenal seseorang seperti anda,” ujar pemuda itu,
membungkuk, lalu pergi.
“Saya juga merasa senang dapat mengenal seseorang seperti
anda,” ujar Hyo Jung.
Hyo Jung berpikir panjang selama perjalanan. “Hmm, apakah aku
lucu? Aku hanya bernyanyi. Apakah suaraku jelek? Hmm, dia pemuda yang
menyenangkan, meski agak aneh,” Hyo Jung mengangkat menepuk-nepuk pipinya,
mengangkat kaca matanya dan mengucek matanya.
**********
“I wanna it – I wanna it, oh~ jeongmal jeongmal kimchi. Oh yeah, baby… I
just can eat noodle noodle when I felt so so so hungry. Oh God, baby… Somebody
help me oh just please help me for right now. I’m aloner, please become m-y
closer mind~” Hyo Jung menyanyikan lagunya lagi. Kemudian ia tersenyum.
Ponselnya berbunyi. Lee Ga Yeun,
sahabatnya menelepon.
“Yeoboseyo~” Hyo Jung membuka
pembicaraan.
“Hyo Jung-ah,…” nada bicara Ga Yeun
terdengar khawatir.
“Ada apa Yeun-ah?”
“Orang tuaku pergi ke daerah asal
nenek untuk bekerja sebagai nelayan di sana. Aku tidak boleh ikut, mereka
mengharuskanku belajar di sini. Tapi adikku yang tinggal bersamaku kecelakaan…”
Ga Yeun terisak.
“Astaga,… calm down, baby. Hmm, di
mana kamu sekarang?”
“Aku bawa dia ke Seoul National
University Hospital…”
“Aku akan ke sana,” kata Hyo Jung. “Tunggu
aku.”
Ini pertama kalinya setelah sekian
lama Hyo Jung tidak mengendarai mobil pribadinya. Selama 3 bulan, mungkin? Tidak.
Sepertinya lebih dari 3 bulan. Hyo Jung sangat rindu pada benda yang hampir selalu
disentuhnya dulu.
Mobil meluncur cepat di bawah
remang-remang lampu jalan kota Seoul. Menerobos puluhan mobil dengan cepat,
menuju Seoul National University Hospital.
**********
“Dia mengalami patah tulang dan butuh
perawatan khusus untuk beberapa hari. Biarkan dia beristirahat dulu,” kata sang
dokter, setelah keluar dari ruangan Dong Chan, adik Ga Yeun.
“Terima kasih,” ucap Ga Yeun.
Setelah sang dokter pergi, Ga Yeun
menumpahkan semua perasaan dan bebannya. “Orang tuaku.. o.. orang tuaku bekerja
sebagai nelayan di daerah tempat nenek tinggal. Aku yakin, akan sulit membayar
biaya perawatan Dong Chan. Hyo Jung, apa yang harus kulakukan?” Tanya Ga Yeun
sambil terus menangis.
“Gwaenchanhna, tenanglah, aku akan
membantumu,” kata Hyo Jung sambil menepuk punggung Ga Yeun lembut.
“Maaf, aku sudah banyak merepotkanmu.”
Ga Yeun memeluk sahabatnya.
“Hyo Jung tersenyum, “Itulah gunanya
sahabat.”
**********
Keesokan paginya, Hyo Jung dan Ga
Yeun berangkat ke kampus bersama. Tapi mereka harus berpisah dikarenakan mereka
mengambil jurusan yang berbeda.
“Yaa, gadis nakal!” Terdengar suara
Jong Suk dari belakang. Hyo Jung menoleh. Jong Suk sedang berlari
menghampirinya. Hyo Jung menyambutnya dengan senyuman manis yang membuat pria
itu merasa amat sangat bahagia. Kembalinya senyuman Hyo Jung sudah langka
akhir-akhir ini dan kemunculan senyumnya yang tak terduga merupakan sebuah
kejutan istimewa untuknya, Jong Suk.
“Kau sudah mengerjakan tugasnya?” Tanya
Jong Suk.
“Belum semua, tapi hampir selesai,”
kata Hyo Jung.
“Wow, kilat…” ujar Jong Suk. Hyo Jung
tertawa kecil.
Mereka mengambil jurusan yang sama,
sehingga hampir setiap waktu mereka selalu bersama di kampus. Saat Hyo Jung
memperhatikan dosen mengajar, Jong Suk diam-diam memperhatikan orang yang
mengisi hatinya itu. Wajah Hyo Jung terlihat manis dari setiap sudut yang
diambil oleh Jong Suk.
Bunyi “kriiinnng….” Menandakan saat
istirahat. Hyo Jung memutuskan untuk membaca sejumlah buku di taman kampus. Hyo
Jung memilih tempat duduk rindang di bawah buku. Ia tidak peduli bahwa di
tempat duduk itu ada orang lain yang sedang melakukan aktivitas yang sama. Hyo
Jung dengan cueknya duduk disebelah orang itu tanpa ijin, permisi atau apa pun.
Orang itu melirik kea rah Hyo Jung selama beberapa detik, kemudian melanjutkan
kegiatannya.
Seorang mahasiswa yang merokok
berjalan dekat tempat Hyo Jung duduk dan menghembuskan asap rokoknya seenaknya.
Ketika hidung Hyo Jung menyentuh asap rokok itu, ia bersin. Orang disebelahnya,
yang merupakan seorang pemuda memandangi Hyo Jung kemudian berpaling. “Jadi kau
orang menjijikkan yang waktu itu,” ujarnya santai.
“Apa katamu? Memangnya siapa kau?!
Aku tidak memiliki urusan denganmu!” Hyo Jung mulai naik darah, tanpa melihat
wajah pemuda di sampingnya.
Tak lama kemudian, pemuda itu juga
bersin, cukup keras. Tapi tidak sekeras saat di halte waktu itu. “Nah, kau
juga!” Hyo Jung merasa senang.
“Itu karena kau menolak virus dan
bersinmu itu membawa virusnya kepadaku. Akhirnya aku bersin, dan itu juga
karenamu!” ujar pemuda itu keras. Kemudian mereka bertatapan.
“Kau!” kata mereka serempak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar