Casts :
·
Park Heo Jung
·
Hyun Bin
·
Lee Jong Suk as Heo Jung’s classmate
·
Choi Si Won as PBC’s Chairman
·
G-Dragon as Park Ji Young, Heo Jung’s old
brother
·
And the other casts.
Length : Episodes


Sudah kesekian kalinya Heo Jung menatap
langit. Ia merasa lelah, pikirannya penat. “Apa yang harus kulakukan?” batinnya
dalam hati. Tadi siang, Ayahnya baru saja datang ke pengadilan untuk mengambil
surat cerai. Heo Jung benar-benar merasa tidak lagi memiliki semangat hidup.
“Yaaa, siang
bolong begini, jangan bengong!” kakak Heo Jung, Ji Young mengangetkannya. Heo
jung hanya terdiam. Ji Young mengguncang bahu adiknya. Tapi adiknya itu tetap
terdiam. Ji Young baru sadar, bahwa ada sesuatu yang tidak benar telah terjadi
pada adiknya. “Ada apa denganmu?” Merasa diabaikan, Ji Young bertanya lagi,
namun volume suaranya ditambah. “Heh, kenapa kau mengabaikanku?! Sebagai adikku
satu-satunya, kau seharusnya…” Ji Young tidak meneruskan kalimatnya. Ia melihat
sebutir air mata mengalir di pipi lembut adiknya itu. “A.. a, ada apa de..
denganmu?”
Heo Jung menatap
mata kakaknya lekat-lekat, Ji Young merasa aneh dan bingung. “Kakak, sama
sekali tidak tahu?”
“Tidak tahu apa
maksudmu?”
“Ayah dan Ibu,
akan segera bercerai.” Heo Jung memperlambat kata terakhir yang diucapkannya.
Ji Young terdiam. Kemudian, Ji Young terpuruk ke lantai. “A..apa, katamu?”
“Orang tua kita
akan bercerai!” teriak Heo Jung kemudian menangis keras.
“Aku tidak…
tidak… percaya…” kata Ji Young lemah. Perlahan-lahan, Ji Young bangkit berdiri
dan keluar dari kamar adiknya.
Heo Jung menangis seharian. Sedangkan
kakaknya, mengurung diri dalam kamar. Orang tua mereka tidak akan pulang hari
itu. Ibu Heo Jung pergi ke rumah nenek, sedangkan Ayah mereka tinggal satu
rumah bersama selingkuhannya.
Rumah besar
dengan konstruksi modern yang ditempati kakak beradik yang mengambil jurusan
sama di Seoul University itu terasa suram. Tidak ada suara tawa yang biasa
terdengar dari ruang keluarga. Tidak ada suara nyanyian merdu yang berasal dari
ruang latihan. Semuanya tidak lagi terdengar. Rumah itu menjadi sangat sepi,
seakan kejadian yang beru terjadi 2 hari yang lalu, tidak pernah terjadi.
“Omma, Appa!” Heo Jung berteriak sambil menangis di dalam kamarnya. Sambil
memeluk bantalnya erat, ia menikmati setiap rasa pedih yang muncul dari
hatinya. “Sakit, omma… Appa, sakit…”
**********
Sinar matahari
menyinarinya dengan hangat, seperti berusaha memberi semangat baru dihari baru
Heo Jung. Heo Jung membuka matanya perlahan. Berat dan sakit, karena semalam ia
terus menangis. Tapi rasa sakit karena menangis tidak dapat dibandingkan dengan
rasa pedih dihati yang ia terima ini. Dengan sisa tenaga yang ada, Heo jung
berusaha untuk bangkit. Kakinya tidak kuat menopang berat tubuhnya, sehingga ia
sempat jatuh beberapa kali. Tapi Heo Jung tetap berusaha dan akhirnya berhasil.
Ia mendapati kakaknya sedang tertidur di ruang makan dengan kepala di atas meja
makan. Di atas meja makan itu pula, Heo Jung melihat sebuah gelas dengan 2
botol soju (arak Korea). Heo Jung merasa tertekan, hanya dengan melihat
kakaknya saja.
Tidak berniat
untuk makan sesuatu, Heo Jung segera mandi dan bersiap untuk ke kampus. Tapi,
ia mengurungkan niatnya. Terlalu sulit baginya untuk melakukan banyak hal. Heo
Jung lebih memilih untuk menetap di rumah. Tapi, terlintas sesuatu di benaknya.
Sesuatu yang selalu dia lakukan ketika sedang dalam keadaan buruk. Berharap
penuh, setelah melakukan kegiatan ini, dia akan merasa lebih baik.
Heo Jung
bersiap-siap untuk pergi ke sport and
health center, yang letaknya tidak jauh dari kantor DPR Korea Selatan
(*ngarang xD). Denagn hanya membawa pakaian renang, alat bilas dan pakaian
ganti, Heo Jung menekan tombol non-aktifkan alarm/membuka kunci mobil dan pergi
dengan kecepatan tinggi dengan mobil sport warna putihnya itu.
********
Heo Jung terjun
ke dalam kolam renang, tidak tanggung-tanggung, sedalam 3 meter. Ia terus
berputar dan berputar sampai kehilangan tenaga dan kakinya terasa mulai kram.
Kolam itu begitu luas, dan tidak banyak orang di tempat itu. Pastilah hamper
tidak ada orang yang menyadari bahwa perlahan Heo Jung mulai tenggelam.
Beberapa saat sebelum benar-benar tenggelam, ia sempat meneriakkan kata
“tolong”. Berharap bahwa seseorang akan mendengarnya. Kemudian ia menutup
matanya dan merasakan air mulai meraih ubun-ubunnya.
Beberapa detik
kemudian, sepasang tangan mengangkatnya dari dalam air dan membawanya sampai ke
tepi. Orang itu meraih kepala Heo Jung dengan tangannya dan berteriak memanggil
namanya, “Heo Jung-ah! Heo Jung!” Samar-samar Heo Jung mendengar suara itu.
Suara yang sering didengarnya. Heo Jung mulai merasa lebih nyaman ketika orang
itu menekan-nekan dadanya, sehingga air dari dalam mulutnya keluar. Setelahnya,
Heo Jung merasa sesuatu menyentuh bibirnya. Setelah itu, ia dapat membuka matanya.
“Jong Suk-ah…”
Orang itu
tersenyum lega. “Bodohnya kau ini! Bagaimana jika kau tenggelam tanpa ada yang
tahu? Kau bisa mati!” Lee Jong Suk, teman 1 kelasnya terlihat sangat cemas.
“Itu harapanku,”
ujar Heo Jung, setelah itu ia menangis lagi, dalam pelukan Jong Suk.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar