Sabtu, 01 Oktober 2011

My Stupid Sweet Prince (Episode 1)



Casts :
·         Park Heo Jung
·         Hyun Bin
·         Lee Jong Suk as Heo Jung’s classmate
·         Choi Si Won as PBC’s Chairman
·         G-Dragon as Park Ji Young, Heo Jung’s old brother
·         And the other casts.

Length : Episodes


               Sudah kesekian kalinya Heo Jung menatap langit. Ia merasa lelah, pikirannya penat. “Apa yang harus kulakukan?” batinnya dalam hati. Tadi siang, Ayahnya baru saja datang ke pengadilan untuk mengambil surat cerai. Heo Jung benar-benar merasa tidak lagi memiliki semangat hidup.


“Yaaa, siang bolong begini, jangan bengong!” kakak Heo Jung, Ji Young mengangetkannya. Heo jung hanya terdiam. Ji Young mengguncang bahu adiknya. Tapi adiknya itu tetap terdiam. Ji Young baru sadar, bahwa ada sesuatu yang tidak benar telah terjadi pada adiknya. “Ada apa denganmu?” Merasa diabaikan, Ji Young bertanya lagi, namun volume suaranya ditambah. “Heh, kenapa kau mengabaikanku?! Sebagai adikku satu-satunya, kau seharusnya…” Ji Young tidak meneruskan kalimatnya. Ia melihat sebutir air mata mengalir di pipi lembut adiknya itu. “A.. a, ada apa de.. denganmu?”

Heo Jung menatap mata kakaknya lekat-lekat, Ji Young merasa aneh dan bingung. “Kakak, sama sekali tidak tahu?”

“Tidak tahu apa maksudmu?”

“Ayah dan Ibu, akan segera bercerai.” Heo Jung memperlambat kata terakhir yang diucapkannya. Ji Young terdiam. Kemudian, Ji Young terpuruk ke lantai. “A..apa, katamu?”

“Orang tua kita akan bercerai!” teriak Heo Jung kemudian menangis keras.

“Aku tidak… tidak… percaya…” kata Ji Young lemah. Perlahan-lahan, Ji Young bangkit berdiri dan keluar dari kamar adiknya.

Heo Jung menangis seharian. Sedangkan kakaknya, mengurung diri dalam kamar. Orang tua mereka tidak akan pulang hari itu. Ibu Heo Jung pergi ke rumah nenek, sedangkan Ayah mereka tinggal satu rumah bersama selingkuhannya.

Rumah besar dengan konstruksi modern yang ditempati kakak beradik yang mengambil jurusan sama di Seoul University itu terasa suram. Tidak ada suara tawa yang biasa terdengar dari ruang keluarga. Tidak ada suara nyanyian merdu yang berasal dari ruang latihan. Semuanya tidak lagi terdengar. Rumah itu menjadi sangat sepi, seakan kejadian yang beru terjadi 2 hari yang lalu, tidak pernah terjadi. “Omma, Appa!” Heo Jung berteriak sambil menangis di dalam kamarnya. Sambil memeluk bantalnya erat, ia menikmati setiap rasa pedih yang muncul dari hatinya. “Sakit, omma… Appa, sakit…”

**********

Sinar matahari menyinarinya dengan hangat, seperti berusaha memberi semangat baru dihari baru Heo Jung. Heo Jung membuka matanya perlahan. Berat dan sakit, karena semalam ia terus menangis. Tapi rasa sakit karena menangis tidak dapat dibandingkan dengan rasa pedih dihati yang ia terima ini. Dengan sisa tenaga yang ada, Heo jung berusaha untuk bangkit. Kakinya tidak kuat menopang berat tubuhnya, sehingga ia sempat jatuh beberapa kali. Tapi Heo Jung tetap berusaha dan akhirnya berhasil. Ia mendapati kakaknya sedang tertidur di ruang makan dengan kepala di atas meja makan. Di atas meja makan itu pula, Heo Jung melihat sebuah gelas dengan 2 botol soju (arak Korea). Heo Jung merasa tertekan, hanya dengan melihat kakaknya saja.

Tidak berniat untuk makan sesuatu, Heo Jung segera mandi dan bersiap untuk ke kampus. Tapi, ia mengurungkan niatnya. Terlalu sulit baginya untuk melakukan banyak hal. Heo Jung lebih memilih untuk menetap di rumah. Tapi, terlintas sesuatu di benaknya. Sesuatu yang selalu dia lakukan ketika sedang dalam keadaan buruk. Berharap penuh, setelah melakukan kegiatan ini, dia akan merasa lebih baik.

Heo Jung bersiap-siap untuk pergi ke sport and health center, yang letaknya tidak jauh dari kantor DPR Korea Selatan (*ngarang xD). Denagn hanya membawa pakaian renang, alat bilas dan pakaian ganti, Heo Jung menekan tombol non-aktifkan alarm/membuka kunci mobil dan pergi dengan kecepatan tinggi dengan mobil sport warna putihnya itu.

********

Heo Jung terjun ke dalam kolam renang, tidak tanggung-tanggung, sedalam 3 meter. Ia terus berputar dan berputar sampai kehilangan tenaga dan kakinya terasa mulai kram. Kolam itu begitu luas, dan tidak banyak orang di tempat itu. Pastilah hamper tidak ada orang yang menyadari bahwa perlahan Heo Jung mulai tenggelam. Beberapa saat sebelum benar-benar tenggelam, ia sempat meneriakkan kata “tolong”. Berharap bahwa seseorang akan mendengarnya. Kemudian ia menutup matanya dan merasakan air mulai meraih ubun-ubunnya.

Beberapa detik kemudian, sepasang tangan mengangkatnya dari dalam air dan membawanya sampai ke tepi. Orang itu meraih kepala Heo Jung dengan tangannya dan berteriak memanggil namanya, “Heo Jung-ah! Heo Jung!” Samar-samar Heo Jung mendengar suara itu. Suara yang sering didengarnya. Heo Jung mulai merasa lebih nyaman ketika orang itu menekan-nekan dadanya, sehingga air dari dalam mulutnya keluar. Setelahnya, Heo Jung merasa sesuatu menyentuh bibirnya. Setelah itu, ia dapat membuka matanya. “Jong Suk-ah…”

Orang itu tersenyum lega. “Bodohnya kau ini! Bagaimana jika kau tenggelam tanpa ada yang tahu? Kau bisa mati!” Lee Jong Suk, teman 1 kelasnya terlihat sangat cemas.
“Itu harapanku,” ujar Heo Jung, setelah itu ia menangis lagi, dalam pelukan Jong Suk.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar