Casts :
·
Park Heo Jung
·
Hyun Bin
·
Lee Jong Suk as Heo Jung’s classmate
·
Choi Si Won as PBC’s Chairman
·
G-Dragon as Park Ji Young, Heo Jung’s old
brother
·
And the other casts.
Length : Episodes

Hyun
Bin melihat seorang wanita sedang sibuk dengan masakannya. Wanita itu memasak
dengan cepat, Hyun Bin kagum memandangnya. “Umm, selamat pagi,” sapa Hyun Bin.
“Oh,
jadi kau sudah bangun?” kata wanita itu. Hyun Bin hanya bergumam. Wanita itu
menoleh. “Kau?” Hyun Bin terperanjat.
“Memangnya
ada apa?”
“Tidak apa-apa.
Lanjutkan acara memasakmu,” kata Hyun Bin. Hyun Bin duduk menunggu di meja
makan sambil mengamati rumah itu. Sangat besar dan mewah. Tidak lebih dari
semenit, Heo Jung membawa beraneka ragam jenis masakan. Hyun Bin tidak sabar
mencobanya, dan… “wow, ini enak sekali!”
Hyun Bin makan
dengan lahap. Heo Jung merasa senang bahwa teman barunya itu benar-benar
menyukai makanannya. Bahkan Hyun Bin minta tambah beberapa mangkuk lagi. Itu
benar-benar membuat Heo Jung senang.
“Hmm, kenapa
kemarin kau menmpakkan dirimu?” Tanya Heo Jung.
“Aku pikir itu
akan lebih baik. Aku hanya takut, kau akan ikut celaka. Lebih baik aku saja,”
ujar Hyun Bin sambil terus melahap makanannya.
“Terima kasih
banyak,” kata Heo Jung. Heo Jung merasa pipinya memerah.
“Apa kau merasa
malu? Pipimu terlihat sangat merah. Oh, memang rencana ketua kemarin bagaimana.
Aku lupa menanyakannya lagi padamu.”
“Rencana? Aku
tidak tahu apapun.”
“Apa?” Hyun Bin
terkejut. “Bagaimana mungkin, kau…”
“Aku hanya
menerima surat kaleng dan penasaran, akhirnya aku datang ke café itu dan
bertemu denganmu,” ujar Heo Jung.
“Pantas kau
terlihat bodoh,” kata Hyun Bin santai.
“Apa katamu?!”
Heo Jung mulai naik darah.
“A.. aku hanya
bercanda.” Kelihatannya Hyun Bin terkejut dengan Heo Jung yang tiba-tiba naik
darah.
Siang harinya,
Hyun Bin memohon diri untuk pergi. Heo Jung hanya tersenyum dan mengucapkan
selamat jalan.
*********
(Keesokan
harinya)
Sepulang dari
kampus, hujan turun sangat deras. Namun, Heo Jung tidak peduli mengenai itu.
Petir yang menyambar-nyambar tidak menyadarkannya untuk segera berteduh dan
mencari tempat aman. Heo Jung menerobos hujan tanpa payung atau apa pun.
Pikirannya melayang hanya pada satu hal. Ayahnya akan menyerahkan surat cerai
ke pengadilan hari ini. Hal itu membuat heo Jung depresi. Ketika sedang
berjalan, seseorang mendekatinya dan mengenakan jas padanya. Jas itu memang
sudah basah. Tapi Heo Jung merasa nyaman atas kasih sayang orang tersebut. Heo
jung belum sempat melihat wajah orang itu karena sejak tadi ia menunduk. Tapi
orang itu membawanya untuk berteduh.
“Hyun Bin…” kata
Heo Jung pelan. Heo Jung mulai menggigil.
“Ahh, kau ini.
Ada apa denganmu? Hujan ini sangat deras. Untuk apa kau menerobosnya hah? Ingin
menjadi pusat perhatian?” ujar Hyun Bin kesal.
Heo Jung
menangis. Hyun Bin hanya menatapnya dengan tatapan bingung. Tapi kemudian, Hyun
Bin memeluk Heo Jung, sehingga gadis itu bisa menangis sambil bersandar di
dadanya. Sambil menangis, tubuh Heo Jung bergetar hebat. Hyun Bin memeluknya
semakin erat untuk membuatnya merasa lebih hangat.
“Kau merasa
kedinginan?” Tanya Hyun Bin.
“Sangat,” jawab
Heo Jung.
Hyun Bin tidak
terbiasa melihat wanita menderita. Yang membuat ini sedikit aneh adalah, ada rasa khawatir menggerogoti hatinya. Hyun Bin memikirkan sesuatu sesaat. Ide. Meskipun ide ini gila, Hyun Bin berharap ini
akan berhasil membuatnya sedikit lebih hangat. Hyun Bin mendekatkan wajahnya ke
wajah Heo Jung dan mencium bibir gadis itu lembut. Ciumannya begitu lembut dan
hangat. Heo Jung merasa aneh, tapi lebih hangat.
Di sisi lain,
Jong Suk dengan paying transparannya melihat kejadian tersebut sambil
mengepalkan tangannya.
**********
Hyun Bin
mengantar Heo Jung sampai rumah. Seperti biasa, tidak ada siapa pun di rumah
itu. Hyun merasa iba atas rasa sepi yang ditanggung Heo Jung selama ini. Hyun
Bin membuatkan segelas coklat hangat untuk gadis itu. Heo Jung, sudah mulai
berhenti menangis sejak Hyun Bin menciumnya tadi.
“Kelihatannya
kesehatan tubuhmu semakin menurun beberapa hari terakhir. Di mana keluargamu?”
tanya Hyun Bin.
“Orang tuaku
berpisah. Kakakku, lantaran dia memiliki karir sebagai penyanyi. Dia lebih
sering tinggal di asrama bersama teman-temannya.”
“”Kasihan
sekali, kau,” ujar Hun Bin. “Aku juga sudah tidak memiliki keluarga yang utuh.
Ayahku pergi ke luar negeri tanpa mempedulikanku. Dan aku anak tunggal.
Sedangkan ibuku sudah… sudah… meninggal…” Hyun Bin merasa tenggorokannya
tercekat ketika mengatakan beberapa kata terakhir. Heo Jung memandang Hyun Bin.
“Aku pikir, akan lebih baik jika aku menemanimu di sini. Bolehkah aku?” kata
Hyun Bin lagi.
“tentu saja! Aku
merasa sangat senang karena memiliki teman!” Heo Jung tersenyum ceria, dan
dengan gaya aegyo-nya berhasil mencuri perhatian Hyun Bin.
Sesuai rencana,
mulai malam itu, Hyun Bin tinggal serumah dengan Heo Jung. Mereka sering
mengerjakan tugas bersama dan melakukan banyak hal seperti memancing, membaca
buku, dan menonton televisi bersama.
**********
Siang itu,
mereka makan bersama di sebuah rumah makan dekat laut, tak jauh dari Seoul.
Pemandangan sekitar pantai indah sekali. Berkali-kali Heo Jung berdecak kagum
(itu karena Heo Jung jarang bertamasya sebelumnya). Hyun Bin hanya menertawakan
tingkah laku gadis yang lebih muda 2 tahun darinya itu.
“Bagaimana, kau
suka?” tanya Hyun Bin.
“Sangat!” Heo
Jung tersenyum lebar. Heo Jung selalu memandang ke arah ombak berbuih yang
bergulung-gulung. Dan tanpa sepengetahuan Heo Jung, Hyun Bin selalu
memperhatikannya. Tiba-tiba Hyun Bin cegukan. Ia selalu begitu jika mulai
merasa jatuh cinta. Sudah lama ia tidak merasakan rasa yang seperti ini. Cinta
pertama dan terakhirnya adalah teman semasa kecil yang Hyun Bin sudah tidak
tahu menahu di mana temannya itu berada.
Dalam perjalanan
pulang, Heo Jung tertidur. Hyun Bin menyelimuti tubuh Heo Jung dengan jaketnya.
Ia merasa bahagia karena bisa bertemu seseorang seperti Heo Jung. Sangat
bahagia. Rasanya seperti memiliki keluarga yang utuh kembali.
Sesampainya di
depan rumah, Hyun Bin memarkirkan mobil seperti semula. Kemudian ia menatap
lekat-lekat orang yang sudah membuatnya jatuh hati itu. Hyun Bin menyentuh hidung dan pipi Heo Jung. Tuba-tiba seseorang
menariknya keluar mobil dan menghajarnya.
“Jangan
bertindak macam-macam!” lelaki yang tak dikenal Hyub Bin berteriak.
“Siapa kau?”
Hyun Bin terheran-heran.
“Aku adalah
teman terdekatnya. Jangan macam-macam padanya. Kau mengerti?!” Kebetulan saja
aku lewat sini, dan mendapatimu sedang melakukan sesuatu pada Heo Jung. Aku
tidak akan membiarkanmu pergi hidup-hidup jika kau melukainya. Tadinya aku
ingin berkunjung kemari. Tapi, berhubung Heo Jung sedang tidur, lebih baik aku
pergi saja. Tolong jaga dia baik-baik. Dia sangat berarti untukku,” ujar Jong
Suk yang kemudian berlalu.
“Apa-apaan dia?
Memang dia itu siapa? Bertindak seakan dia pacar Heo Jung!” batin Hyun Bin.
Hatinya terbakar amarah dan cemburu. Hyun Bin mengangkat tubuh Heo Jung dengan kedua tangannya dan membawanya ke kamar tidur Heo Jung.
Hatinya terbakar amarah dan cemburu. Hyun Bin mengangkat tubuh Heo Jung dengan kedua tangannya dan membawanya ke kamar tidur Heo Jung.
Ketika
membaringkan tubuh Heo Jung, ia melihat bibir Heo Jung yang merah. Hyun Bin
sedikit tergoda untuk melumat bibirnya. Tapi dia mengurungkan niatnya.
Hyun Bin duduk
termenung di taman, memikirkan Heo Jung. Ia teringat saat ia melihat bibir Heo Jung tadi.
Jantungnya berdebar kencang sekali, seperti habis lomba marathon. Hyun Bin
menutup wajah dengan kedua tangannya. Ia terkejut, bingung, takut, kenapa ini
bisa terjadi padanya. Hun Bin baru teringat, akan ada perayaan datangnya musim
semi nanti malam. Lebih baik ia bersiap-siap sekarang.
Sekitar 2 jam
kemudian, Heo Jung terbangun. Tiba-tiba ia teringat akan perayaan datangnya
musim semi nanti malam. Heo Jung memilih untuk bersiap-siap. Mereka berdua
sama-sama tidak tahu, bahwa mereka akan menghadiri acara yang sama.
Heo Jung
berdandan feminine dan sangat cantik malam itu, membuat Hyun Bin terkejut.
“Ada apa ini?
Apa kau akan menghadiri sebuah pesta?” Tanya Hyun Bin.
“Hmm, begitulah.
Dan kau?”
Hyun Bin
mengangguk. “Aku akan mengantarmu. Di mana tempatnya?”
“Europian
Asiatic Food Restaurant. Kakak tahu tempat itu kan?” Tanya Heo Jung.
“Kau? Perayaan
datangnya musim semi?” Tanya Hyun Bin balik.
“Ha? Bagaimana
kakak bisa tahu?”
“Aku juga akan
menghadiri acara itu,” kata Hyun Bin. Kemudian mereka berdua tertawa.
**********
Pesta malam itu
berlangsung meriah dan menyenangkan. Kini saatnya berdansa, tapi Heo Jung
merasa pusing karena keramaian sehingga ia menjauh. Hyun Bin melihatnya,
dan ia pergi menyusul Heo Jung.
“Heo Jung-ssi…”
panggil Hyun Bin. Wajah Heo Jung pucat. Spontan, Hyun Bin menyentuh wajah Heo
Jung.
“Ada apa
denganmu?” Tanya Hyun Bin. Heo Jung
hanya menggeleng. Hyun Bin menunggu Heo Jung hingga ia merasa lebih baik. Ia mengelus punggung Heo Jung, untuk menenangkannya. Tanpa alasan, matanya begitu memperhatikan bibir Heo Jung. Kini
Hyun Bin tergoda lagi. Bibir ranum Heo Jung membuatnya tergoda untuk
menciumnya. Hyun Bin mendekat pada Heo Jung perlahan. Sambil memeluknya, Hyun Bin memberikan ciuman lembut, yang kemudian menjadi lebih agresif. Meskipun begitu, Heo Jung
juga menikmatinya. Terbukti dengan Heo Jung yang membalas ciuman Hyun Bin
perlahan…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar