Minggu, 02 Oktober 2011

My Stupid Sweet Prince (Episode 4)


Casts :
·         Park Heo Jung
·         Hyun Bin
·         Lee Jong Suk as Heo Jung’s classmate
·         Choi Si Won as PBC’s Chairman
·         G-Dragon as Park Ji Young, Heo Jung’s old brother
·         And the other casts.

Length : Episodes


                Hyun Bin melihat seorang wanita sedang sibuk dengan masakannya. Wanita itu memasak dengan cepat, Hyun Bin kagum memandangnya. “Umm, selamat pagi,” sapa Hyun Bin.

                “Oh, jadi kau sudah bangun?” kata wanita itu. Hyun Bin hanya bergumam. Wanita itu menoleh. “Kau?” Hyun Bin terperanjat.

                “Memangnya ada apa?”

“Tidak apa-apa. Lanjutkan acara memasakmu,” kata Hyun Bin. Hyun Bin duduk menunggu di meja makan sambil mengamati rumah itu. Sangat besar dan mewah. Tidak lebih dari semenit, Heo Jung membawa beraneka ragam jenis masakan. Hyun Bin tidak sabar mencobanya, dan… “wow, ini enak sekali!”

Hyun Bin makan dengan lahap. Heo Jung merasa senang bahwa teman barunya itu benar-benar menyukai makanannya. Bahkan Hyun Bin minta tambah beberapa mangkuk lagi. Itu benar-benar membuat Heo Jung senang.

“Hmm, kenapa kemarin kau menmpakkan dirimu?” Tanya Heo Jung.

“Aku pikir itu akan lebih baik. Aku hanya takut, kau akan ikut celaka. Lebih baik aku saja,” ujar Hyun Bin sambil terus melahap makanannya.

“Terima kasih banyak,” kata Heo Jung. Heo Jung merasa pipinya memerah.

“Apa kau merasa malu? Pipimu terlihat sangat merah. Oh, memang rencana ketua kemarin bagaimana. Aku lupa menanyakannya lagi padamu.”

“Rencana? Aku tidak tahu apapun.”

“Apa?” Hyun Bin terkejut. “Bagaimana mungkin, kau…”

“Aku hanya menerima surat kaleng dan penasaran, akhirnya aku datang ke café itu dan bertemu denganmu,” ujar Heo Jung.

“Pantas kau terlihat bodoh,” kata Hyun Bin santai.

“Apa katamu?!” Heo Jung mulai naik darah.

“A.. aku hanya bercanda.” Kelihatannya Hyun Bin terkejut dengan Heo Jung yang tiba-tiba naik darah.

Siang harinya, Hyun Bin memohon diri untuk pergi. Heo Jung hanya tersenyum dan mengucapkan selamat jalan.


*********

(Keesokan harinya)
Sepulang dari kampus, hujan turun sangat deras. Namun, Heo Jung tidak peduli mengenai itu. Petir yang menyambar-nyambar tidak menyadarkannya untuk segera berteduh dan mencari tempat aman. Heo Jung menerobos hujan tanpa payung atau apa pun. Pikirannya melayang hanya pada satu hal. Ayahnya akan menyerahkan surat cerai ke pengadilan hari ini. Hal itu membuat heo Jung depresi. Ketika sedang berjalan, seseorang mendekatinya dan mengenakan jas padanya. Jas itu memang sudah basah. Tapi Heo Jung merasa nyaman atas kasih sayang orang tersebut. Heo jung belum sempat melihat wajah orang itu karena sejak tadi ia menunduk. Tapi orang itu membawanya untuk berteduh.

“Hyun Bin…” kata Heo Jung pelan. Heo Jung mulai menggigil.

“Ahh, kau ini. Ada apa denganmu? Hujan ini sangat deras. Untuk apa kau menerobosnya hah? Ingin menjadi pusat perhatian?” ujar Hyun Bin kesal.

Heo Jung menangis. Hyun Bin hanya menatapnya dengan tatapan bingung. Tapi kemudian, Hyun Bin memeluk Heo Jung, sehingga gadis itu bisa menangis sambil bersandar di dadanya. Sambil menangis, tubuh Heo Jung bergetar hebat. Hyun Bin memeluknya semakin erat untuk membuatnya merasa lebih hangat.

“Kau merasa kedinginan?” Tanya Hyun Bin.

“Sangat,” jawab Heo Jung.

Hyun Bin tidak terbiasa melihat wanita menderita. Yang membuat ini sedikit aneh adalah, ada rasa khawatir menggerogoti hatinya. Hyun Bin memikirkan sesuatu sesaat. Ide. Meskipun ide ini gila, Hyun Bin berharap ini akan berhasil membuatnya sedikit lebih hangat. Hyun Bin mendekatkan wajahnya ke wajah Heo Jung dan mencium bibir gadis itu lembut. Ciumannya begitu lembut dan hangat. Heo Jung merasa aneh, tapi lebih hangat.

Di sisi lain, Jong Suk dengan paying transparannya melihat kejadian tersebut sambil mengepalkan tangannya.

**********

Hyun Bin mengantar Heo Jung sampai rumah. Seperti biasa, tidak ada siapa pun di rumah itu. Hyun merasa iba atas rasa sepi yang ditanggung Heo Jung selama ini. Hyun Bin membuatkan segelas coklat hangat untuk gadis itu. Heo Jung, sudah mulai berhenti menangis sejak Hyun Bin menciumnya tadi.
“Kelihatannya kesehatan tubuhmu semakin menurun beberapa hari terakhir. Di mana keluargamu?” tanya Hyun Bin.
“Orang tuaku berpisah. Kakakku, lantaran dia memiliki karir sebagai penyanyi. Dia lebih sering tinggal di asrama bersama teman-temannya.”
“”Kasihan sekali, kau,” ujar Hun Bin. “Aku juga sudah tidak memiliki keluarga yang utuh. Ayahku pergi ke luar negeri tanpa mempedulikanku. Dan aku anak tunggal. Sedangkan ibuku sudah… sudah… meninggal…” Hyun Bin merasa tenggorokannya tercekat ketika mengatakan beberapa kata terakhir. Heo Jung memandang Hyun Bin. “Aku pikir, akan lebih baik jika aku menemanimu di sini. Bolehkah aku?” kata Hyun Bin lagi.
“tentu saja! Aku merasa sangat senang karena memiliki teman!” Heo Jung tersenyum ceria, dan dengan gaya aegyo-nya berhasil mencuri perhatian Hyun Bin.
Sesuai rencana, mulai malam itu, Hyun Bin tinggal serumah dengan Heo Jung. Mereka sering mengerjakan tugas bersama dan melakukan banyak hal seperti memancing, membaca buku, dan menonton televisi bersama.

**********

Siang itu, mereka makan bersama di sebuah rumah makan dekat laut, tak jauh dari Seoul. Pemandangan sekitar pantai indah sekali. Berkali-kali Heo Jung berdecak kagum (itu karena Heo Jung jarang bertamasya sebelumnya). Hyun Bin hanya menertawakan tingkah laku gadis yang lebih muda 2 tahun darinya itu.

“Bagaimana, kau suka?” tanya  Hyun Bin.

“Sangat!” Heo Jung tersenyum lebar. Heo Jung selalu memandang ke arah ombak berbuih yang bergulung-gulung. Dan tanpa sepengetahuan Heo Jung, Hyun Bin selalu memperhatikannya. Tiba-tiba Hyun Bin cegukan. Ia selalu begitu jika mulai merasa jatuh cinta. Sudah lama ia tidak merasakan rasa yang seperti ini. Cinta pertama dan terakhirnya adalah teman semasa kecil yang Hyun Bin sudah tidak tahu menahu di mana temannya itu berada.

Dalam perjalanan pulang, Heo Jung tertidur. Hyun Bin menyelimuti tubuh Heo Jung dengan jaketnya. Ia merasa bahagia karena bisa bertemu seseorang seperti Heo Jung. Sangat bahagia. Rasanya seperti memiliki keluarga yang utuh kembali.

Sesampainya di depan rumah, Hyun Bin memarkirkan mobil seperti semula. Kemudian ia menatap lekat-lekat orang yang sudah membuatnya jatuh hati itu. Hyun Bin menyentuh  hidung dan pipi Heo Jung. Tuba-tiba seseorang menariknya keluar mobil dan menghajarnya.

“Jangan bertindak macam-macam!” lelaki yang tak dikenal Hyub Bin berteriak.

“Siapa kau?” Hyun Bin terheran-heran.

“Aku adalah teman terdekatnya. Jangan macam-macam padanya. Kau mengerti?!” Kebetulan saja aku lewat sini, dan mendapatimu sedang melakukan sesuatu pada Heo Jung. Aku tidak akan membiarkanmu pergi hidup-hidup jika kau melukainya. Tadinya aku ingin berkunjung kemari. Tapi, berhubung Heo Jung sedang tidur, lebih baik aku pergi saja. Tolong jaga dia baik-baik. Dia sangat berarti untukku,” ujar Jong Suk yang kemudian berlalu.

“Apa-apaan dia? Memang dia itu siapa? Bertindak seakan dia pacar Heo Jung!” batin Hyun Bin.

Hatinya terbakar amarah dan cemburu. Hyun Bin mengangkat tubuh Heo Jung dengan kedua tangannya dan membawanya ke kamar tidur Heo Jung.

Ketika membaringkan tubuh Heo Jung, ia melihat bibir Heo Jung yang merah. Hyun Bin sedikit tergoda untuk melumat bibirnya. Tapi dia mengurungkan niatnya.

Hyun Bin duduk termenung di taman, memikirkan Heo Jung. Ia teringat saat ia melihat bibir Heo Jung tadi. Jantungnya berdebar kencang sekali, seperti habis lomba marathon. Hyun Bin menutup wajah dengan kedua tangannya. Ia terkejut, bingung, takut, kenapa ini bisa terjadi padanya. Hun Bin baru teringat, akan ada perayaan datangnya musim semi nanti malam. Lebih baik ia bersiap-siap sekarang.

Sekitar 2 jam kemudian, Heo Jung terbangun. Tiba-tiba ia teringat akan perayaan datangnya musim semi nanti malam. Heo Jung memilih untuk bersiap-siap. Mereka berdua sama-sama tidak tahu, bahwa mereka akan menghadiri acara yang sama.

Heo Jung berdandan feminine dan sangat cantik malam itu, membuat Hyun Bin terkejut.

“Ada apa ini? Apa kau akan menghadiri sebuah pesta?” Tanya Hyun Bin.

“Hmm, begitulah. Dan kau?”

Hyun Bin mengangguk. “Aku akan mengantarmu. Di mana tempatnya?”

“Europian Asiatic Food Restaurant. Kakak tahu tempat itu kan?” Tanya Heo Jung.

“Kau? Perayaan datangnya musim semi?” Tanya Hyun Bin balik.

“Ha? Bagaimana kakak bisa tahu?”

“Aku juga akan menghadiri acara itu,” kata Hyun Bin. Kemudian mereka berdua tertawa.

**********

Pesta malam itu berlangsung meriah dan menyenangkan. Kini saatnya berdansa, tapi Heo Jung merasa pusing karena keramaian sehingga ia menjauh. Hyun Bin melihatnya, dan ia pergi menyusul Heo Jung.

“Heo Jung-ssi…” panggil Hyun Bin. Wajah Heo Jung pucat. Spontan, Hyun Bin menyentuh wajah Heo Jung.

“Ada apa denganmu?” Tanya Hyun Bin.  Heo Jung hanya menggeleng. Hyun Bin menunggu Heo Jung hingga ia merasa lebih baik. Ia mengelus punggung Heo Jung, untuk menenangkannya. Tanpa alasan, matanya begitu memperhatikan bibir Heo Jung. Kini Hyun Bin tergoda lagi. Bibir ranum Heo Jung membuatnya tergoda untuk menciumnya. Hyun Bin mendekat pada Heo Jung perlahan. Sambil memeluknya, Hyun Bin memberikan ciuman lembut, yang kemudian menjadi lebih agresif. Meskipun begitu, Heo Jung juga menikmatinya. Terbukti dengan Heo Jung yang membalas ciuman Hyun Bin perlahan…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar