Sabtu, 01 Oktober 2011

My Stupid Sweet Prince (Episode 2)


Casts :
·         Park Heo Jung
·         Hyun Bin
·         Lee Jong Suk as Heo Jung’s classmate
·         Choi Si Won as PBC’s Chairman
·         G-Dragon as Park Ji Young, Heo Jung’s old brother
·         And the other casts.

Length : Episodes



              “Apa yang terjadi denganmu?” ujar Jong Suk, sesaat setelah mereka selesai berenang. Heo Jung terdiam, dan kemudian berkata, “tidak apa-apa.”

                “Kau keliahatan lebih pucat,” kata Jong Suk sambil menyentuh dahi Heo Jung. Tubuh Heo Jung melemah. Beruntung, dengan sigap Jong Suk menangkap tubuh Heo Jung yang akan terjatuh. Alhasil, Jong Suk dengan besar hati mengantar Heo Jung pulang.

                Jong Suk menggendong tubuh Heo Jung masuk ke dalam mobilnya. Heo Jung terlihat sangat lemah. Pandangan Jong Suk tak lepas dari gadis manis yang sedang bersamanya sekarang. Sangat khawatir akan wanita yang dicintainya itu.

                Jong Suk memarkirkan mobilnya di depan rumah Heo Jung. Heo Jung terlihat sedang jatuh ke dalam bersama mimpinya. Perlahan tapi pasti, tangan Jong Suk menyentuh rambut Heo Jung, kemudian membelainya.
*******

                Sekali lagi, Jong Suk membawa masuk tubuh tak berdaya yang sedang bersamanya sekarang. Saat yang bagus, karena ia memiliki kesempatan untuk terus memandangi orang yang dicintainya itu. Dengan raut wajah prihatin, Jong Suk masuk ke dalam kamar Heo Jung. Kamar itu sudah banyak berubah. Baru 3 hari yang lalu Jong Suk masuk bersama beberapa teman Heo Jung ke dalam kamar ini. Keadaannya sungguh berbeda sekarang. Kamar yang selalu terlihat rapi dan tertata, kini tidak lebih seperti gudang. Yang sedikit memberi pengaruh bahwa itu adalah sebuah kamar, dengan adanya sebuah tempat tidur besar dan meja belajar. “Kau sungguh memprihatinkan,” ujar Jong Suk dalam hati.

Jong Suk merebahkan tubuh Heo jung perlahan, seakan takut jika ia bergerak sedikit, salah satu organ tubuh Heo Jung akan rusak. Heo Jung mendesah ketika tubuhnya mendarat di tempat yang sudah ia tiduri selama  10 tahun. Jong Suk mengecup kening Heo Jung lembut.

Jong Suk mengompres kening Heo Jung yang terasa panas. Dengan sabar, ia menunggu Heo Jung hingga terbangun dengan duduk disampingnya.
*******

Heo Jung membuka matanya, sudah malam. Ia meraba keningnya, merasakan sesuatu yang dingin menyentuh dan sejuk. Kain, dan di meja dekat tempat tidurnya terdapat sebuah baskom. Heo  Jung beru menyadari, bahwa tidak hanya dirinya yang berada dalam ruangan itu. Jong Suk tertidur di kursi santainya. Senyum kecil tersungging di bibir merah Heo Jung. Kemudian Heo Jung pergi keluar dari kamarnya.

Ia melupaka kotak surat yang belum disentuhnya seharian ini. Dilihatnya beberapa surat yang dialamatkan kepada penghuni rumah itu. Terdapat 2 surat untuk ayahnya, 2 buah surat masing-masing untuk kakak dan ibunya dan sebuah surat tanpa pengirim juga alamat penerima. Dengan rasa penasaran yang bergejolak dalam hatinya, heo Jung membuka surat tanpa pengirim itu.

Apa yang kau temukan? Bagaimana hasil akhir-akhir ini? Apakah mereka merencanakan sesuatu?
PBC

“Apa maksud surat ini? Apakah mungkin salah pengiriman? Atau, asal mengirim?” Heo Jung bertanya-tanya dalam hati.  Tanpa sepatah kata terucap dari mulutnya, Heo Jung meninggalkan surat-surat itu.

Jong Suk membuka matanya perlahan dan mendapati gadis itu sudah tidak berada di tempatnya. Dengan langkah cepat, ia keluar dari kamar Heo Jung dan mencari Heo Jung ke seluruh sudut rumah. Nafas Jong Suk memburu. Meski begitu, batang hidung Heo Jung sama sekali tidak terlihat.

Terdengar bunyi kling. Suara pintu terbuka. Jong Suk mencari sumber suara tersebut dan mendapati Heo Jung keluar dari kamar mandi dengan pakaian tidur lengkap. Heo Jung terlihat sedang asyik dengan rambutnya yang baru saja ia keramas, tidak menyadari Jong Suk menatapnya tajam. Senyum Heo Jung mengembang keltika melihat Jong Suk. Pipinya yang kemerahaan membuat Jong Suk gemas. Ingin mencubit, dan ingin memilikinya.

“Kau membuatku khawatir,” kata Jong Suk pelan.

“Benarkah?” tanya Heo Jung dengan gaya aegyo-nya, membuat Jong Suk ingin menciumnya.

“Tampaknya kau sudah jauh lebih baik. Aku harus pulang sekarang. Seember air menungguku di rumah,” kata Jong Suk tersenyum kecut. Jong Suk tidak suka tubuhnya basah kecuali saat sedang mandi berolahraga. Air membuatnya cepat masuk angin. Maka dari itu, Jong Suk jarang mandi atau berenang berlama-lama. Sejak kecil, ibu Jong Suk selalu menyiram Jong Suk dengan air setiap kali ia pulang terlambat atau berbuat nakal. Dan sampai sekarang, tradisi itu masih dilakukan. #Haha

“Datanglah kemari jika kau merasa sakit. Aku akan menyediakan segelas coklat hangat kesukaanmu,” kata Heo Jung sambil tersenyum lebar. Jong Suk membalas ramah senyumas gadis itu dan dengan cepat berlalu.
*********

Sinar pucat matahari menyinari Heo Jung seperti alarm yang selalu membangunkannya setiap pagi.  Hari ini hari Minggu. Segudang waktu menunggu untuk dinikmatinya. Seperti kebiasaan sebelumnya, Heo jung akan pergi ke kamar mandi untuk membasuh mukanya. Mengambil gelas, susu dan salad sebagai sarapan paginya. Tak lupa ia memeriksa kotak surat lagi. Sekarang sudah jam 8 lebih. Seharusnya koran dan surat-surat sudah diantar. Heo Jung mendapati sebuah Koran edisi terbaru dan sebuah surat tanpa pengirim lagi, tapi kini dengan penerima. Benar. Alamat yang ditulis oleh pengirim ini adalah alamat rumahnya. Apa yang terjadi sebetulnya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar