Casts :
· Park Heo Jung
· Hyun Bin
· Lee Jong Suk as Heo Jung’s classmate
· Choi Si Won as PBC’s Chairman
· G-Dragon as Park Ji Young, Heo Jung’s old brother
· And the other casts.
Length : Episodes

“Apa yang terjadi denganmu?” ujar Jong
Suk, sesaat setelah mereka selesai berenang. Heo Jung terdiam, dan kemudian
berkata, “tidak apa-apa.”
“Kau
keliahatan lebih pucat,” kata Jong Suk sambil menyentuh dahi Heo Jung. Tubuh
Heo Jung melemah. Beruntung, dengan sigap Jong Suk menangkap tubuh Heo Jung
yang akan terjatuh. Alhasil, Jong Suk dengan besar hati mengantar Heo Jung
pulang.
Jong
Suk menggendong tubuh Heo Jung masuk ke dalam mobilnya. Heo Jung terlihat
sangat lemah. Pandangan Jong Suk tak lepas dari gadis manis yang sedang
bersamanya sekarang. Sangat khawatir akan wanita yang dicintainya itu.
Jong
Suk memarkirkan mobilnya di depan rumah Heo Jung. Heo Jung terlihat sedang
jatuh ke dalam bersama mimpinya. Perlahan tapi pasti, tangan Jong Suk menyentuh
rambut Heo Jung, kemudian membelainya.
*******
Sekali
lagi, Jong Suk membawa masuk tubuh tak berdaya yang sedang bersamanya sekarang.
Saat yang bagus, karena ia memiliki kesempatan untuk terus memandangi orang
yang dicintainya itu. Dengan raut wajah prihatin, Jong Suk masuk ke dalam kamar
Heo Jung. Kamar itu sudah banyak berubah. Baru 3 hari yang lalu Jong Suk masuk
bersama beberapa teman Heo Jung ke dalam kamar ini. Keadaannya sungguh berbeda
sekarang. Kamar yang selalu terlihat rapi dan tertata, kini tidak lebih seperti
gudang. Yang sedikit memberi pengaruh bahwa itu adalah sebuah kamar, dengan
adanya sebuah tempat tidur besar dan meja belajar. “Kau sungguh memprihatinkan,”
ujar Jong Suk dalam hati.
Jong Suk
merebahkan tubuh Heo jung perlahan, seakan takut jika ia bergerak sedikit,
salah satu organ tubuh Heo Jung akan rusak. Heo Jung mendesah ketika tubuhnya
mendarat di tempat yang sudah ia tiduri selama 10 tahun. Jong Suk mengecup kening Heo Jung
lembut.
Jong Suk
mengompres kening Heo Jung yang terasa panas. Dengan sabar, ia menunggu Heo
Jung hingga terbangun dengan duduk disampingnya.
*******
Heo Jung membuka
matanya, sudah malam. Ia meraba keningnya, merasakan sesuatu yang dingin
menyentuh dan sejuk. Kain, dan di meja dekat tempat tidurnya terdapat sebuah
baskom. Heo Jung beru menyadari, bahwa
tidak hanya dirinya yang berada dalam ruangan itu. Jong Suk tertidur di kursi
santainya. Senyum kecil tersungging di bibir merah Heo Jung. Kemudian Heo Jung
pergi keluar dari kamarnya.
Ia melupaka
kotak surat yang belum disentuhnya seharian ini. Dilihatnya beberapa surat yang
dialamatkan kepada penghuni rumah itu. Terdapat 2 surat untuk ayahnya, 2 buah
surat masing-masing untuk kakak dan ibunya dan sebuah surat tanpa pengirim juga
alamat penerima. Dengan rasa penasaran yang bergejolak dalam hatinya, heo Jung
membuka surat tanpa pengirim itu.
Apa yang kau temukan? Bagaimana hasil
akhir-akhir ini? Apakah mereka merencanakan sesuatu?
PBC
“Apa maksud
surat ini? Apakah mungkin salah pengiriman? Atau, asal mengirim?” Heo Jung
bertanya-tanya dalam hati. Tanpa sepatah
kata terucap dari mulutnya, Heo Jung meninggalkan surat-surat itu.
Jong Suk membuka
matanya perlahan dan mendapati gadis itu sudah tidak berada di tempatnya.
Dengan langkah cepat, ia keluar dari kamar Heo Jung dan mencari Heo Jung ke
seluruh sudut rumah. Nafas Jong Suk memburu. Meski begitu, batang hidung Heo
Jung sama sekali tidak terlihat.
Terdengar bunyi
kling. Suara pintu terbuka. Jong Suk mencari sumber suara tersebut dan
mendapati Heo Jung keluar dari kamar mandi dengan pakaian tidur lengkap. Heo
Jung terlihat sedang asyik dengan rambutnya yang baru saja ia keramas, tidak
menyadari Jong Suk menatapnya tajam. Senyum Heo Jung mengembang keltika melihat
Jong Suk. Pipinya yang kemerahaan membuat Jong Suk gemas. Ingin mencubit, dan
ingin memilikinya.
“Kau membuatku
khawatir,” kata Jong Suk pelan.
“Benarkah?” tanya
Heo Jung dengan gaya aegyo-nya, membuat Jong Suk ingin menciumnya.
“Tampaknya kau
sudah jauh lebih baik. Aku harus pulang sekarang. Seember air menungguku di
rumah,” kata Jong Suk tersenyum kecut. Jong Suk tidak suka tubuhnya basah
kecuali saat sedang mandi berolahraga. Air membuatnya cepat masuk angin. Maka
dari itu, Jong Suk jarang mandi atau berenang berlama-lama. Sejak kecil, ibu
Jong Suk selalu menyiram Jong Suk dengan air setiap kali ia pulang terlambat
atau berbuat nakal. Dan sampai sekarang, tradisi itu masih dilakukan. #Haha
“Datanglah
kemari jika kau merasa sakit. Aku akan menyediakan segelas coklat hangat
kesukaanmu,” kata Heo Jung sambil tersenyum lebar. Jong Suk membalas ramah
senyumas gadis itu dan dengan cepat berlalu.
*********
Sinar pucat
matahari menyinari Heo Jung seperti alarm yang selalu membangunkannya setiap
pagi. Hari ini hari Minggu. Segudang
waktu menunggu untuk dinikmatinya. Seperti kebiasaan sebelumnya, Heo jung akan
pergi ke kamar mandi untuk membasuh mukanya. Mengambil gelas, susu dan salad
sebagai sarapan paginya. Tak lupa ia memeriksa kotak surat lagi. Sekarang sudah
jam 8 lebih. Seharusnya koran dan surat-surat sudah diantar. Heo Jung mendapati
sebuah Koran edisi terbaru dan sebuah surat tanpa pengirim lagi, tapi kini
dengan penerima. Benar. Alamat yang ditulis oleh pengirim ini adalah alamat
rumahnya. Apa yang terjadi sebetulnya?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar